Sabtu, 26 Mei 2012 | 05:40 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Terpecahkan, Misteri Patung Moai
Headline
istimewa
Oleh: Donny Andhika
web - Rabu, 9 September 2009 | 09:23 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Jakarta - Ilmuwan Inggris mengatakan berhasil memecahkan misteri kuno yang mengelilingi patung batu di pulau Easter. Sekitar 70 patung raksasa dengan topi merah besar di pulau itu sangat dikagumi dan ilmuwan tahu di mana topi itu dibuat.

Lebih dari 1.000 patung yang dikenal dengan nama "moai" ditemukan di kepulauan pasifik yang terpencil 2.500 mil sebelah barat dari Chile.

Colin Richard dari universitas Manchester dan Sue Hamilton dari universitas College London mengatakan topi merah besar tersebut berasal dari batuan vulkanik yang tersembunyi di "Lubang Suci". Topi itu digulingkan lewat jurang di sebuah gunung tua tempat patung itu berada.

Para ilmuwan ini mengatakan mereka telah merekonstruksi pola para pekerja dari pertambangan Puna Pau. "Kami tahu jika topi-topi itu dibuat dari semen dan debu berwarna merah, dan digulingkan sepanjang perjalanannya," kata Richard.

Sebuah kapak untuk upacara ditemukan dekat topi-topi tersebut. Para ilmuwan memperkirakan jika kapak itu merupakan persembahan kuno. "Sangat jelas jika pertambangan itu memiliki konteks yang sama dengan sebuah industri," ujar Richard.

"Orang Polynesia melihat patung sebagai benda yang bernyawa dan setelah memahatnya, jiwa mereka bersatu dengan patung itu."

Mereka memperkirakan topi tersebut muncul sekitar tahun 1200 dan 1300an, di masa para penghuni pulau mulai membuat moai yang lebih besar lagi untuk mengenang para leluhur.

Sekarang ilmuwan telah mengetahui asal usul topi pada Moai, namun masih ada pertanyaan selanjutnya kenapa warnanya merah?

Topi bercorak merah tersebut merupakan simbol dari kelahiran, kata para ilmuwan. Hamilton mengatakan tutup kepala yang berwarna tersebut merupakan representasi dari sebuah hubungan atau pakaian adat yang dipakai oleh kepala suku.

Ia mengatakan, topi tersebut kemungkinan ditambahkan cirri khusus untuk membedakan status leluhur mereka dengan para "tetangganya". "Perkumpulan kepala suku sangatlah kompetitif dan mereka berkompetisi dengan giat sehingga mereka mendahului kemampuan mereka sendiri," kata Hamilton.[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.