Kamis, 24 Mei 2012 | 07:54 WIB
Follow Us: Facebook twitter
BUMI Menuju Rp 5.000 Akhir Tahun
Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh: Ahmad Munjin
web - Senin, 14 September 2009 | 08:58 WIB
INILAH.COM, Jakarta Pergerakan saham PT Bumi Resources, Senin (14/9) diprediksikan menguat seiring trend penguatan harga minyak dunia dan batubara. Bahkan hingga akhir tahun, saham ini diprediksikan bertengger di level Rp 5.000. Karena itu, long term buy BUMI.
Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan penguatan saham BUMI seiring trend kenaikan harga minyak mentah dunia dan batubara. Menurutnya kedua komoditas ini akan mengalami kenaikan berkelanjutan hingga akhir tahun.
Namun, penguatan ini bukanlah karena faktor fundamental ekonomi melainkan imbas dari pelemahan dolar AS terhadap euro. Kenaikan harga minyak bukan karena demand yang tinggi karena dari sisi ini harga minyak pasti turun akibat ekonomi melemah.
Karena itu, BUMI akan bergerak pada kisaran support Rp 3.000 dan Rp 3.200 untuk level resistance-nya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (13/9).
Pada perdagangan akhir pekan lalu, saham BUMI ditutup menguat Rp 125 (4,13%) menjadi Rp 3.150 dibandingkan sebelumnya Rp 3.025. Harga tertingginya Rp 3.175 dan terendahnya Rp 3.000. Sedangkan volume transaksi mencapai 565,1 juta unit saham senilai Rp 1,7 triliun dan frekuensi 16.232 kali.
Irwan menandaskan, penguatan harga minyak murni faktor teknikal karena pelemahan dolar AS yang trendnya terjadi koreksi terus-menerus. Karena itu, level resistance Rp 3.200 berpeluang bisa ditembus hari ini. Karena pekan lalu pun BUMI ditutup di level 3.150 dan Rp 3.000 untuk level terendahnya, paparnya.
Lebih jauh Irwan mengatakan, akhir pekan lalu harga minyak melemah di bawah US$ 70 per barel. Akibatnya, harga batubara pun turun tipis. Karena itu, resistance pertama di Rp 3.200 dan resistance kedua akan melonjak rebound ke level Rp 3.400.
Resistance kedua ini bisa dicapai di akhir pekan ini, paparnya. Secara umum, BUMI sangat positif dengan target harga Rp 4.200 hingga September dan Rp 5.000 di akhir tahun. Level ini sangat sesuai dengan rumor yang berkembang, dan sentimen positif trend penguatan harga harga minyak, batubara, dan emas.
Untuk hari ini BUMI akan menguji level Rp 3.200 hingga Rp 3.250 per lembar. Pasalnya, para pemain fundamental ketakutan akan rendahnya demand terhadap minyak dan batubara. Tapi, sebenarnya harganya akan naik terus karena ditekan oleh pelemahan dolar AS, imbuhnya.
Sebaliknya, mata uang euro akan terus menguat hingga akhir tahun. Penguatan euro akan mengangkat harga minyak, batubara, dan harga komoditas lainnya. Akibatnya, BUMI sangat potensial mengalami penguatan, ungkapnya.
Apalagi, tambah Irwan, BUMI juga mendapat sentimen positif dari penguatan harga emas di atas level US$ 1.000 per troy ons. Pasalnya, BUMI juga memiliki ladang emas. Salah satunya tambang emas Paboya di Kabupaten Poso yang deposit emasnya sangat besar.
Saat ini memang baru tahap eksplorasi dan belum berproduksi, tukasnya. Namun, banyak pelaku pasar yang tidak mengetahui hal ini. Padahal, PT Paboya, 100% dimiliki BUMI yang dibeli sejak 2005.
Irwan menargetkan harga emas akan menguat ke level US$ 1.200 hingga akhir November dan US$ 1.300-an hingga akhir Desember tahun ini. Karena itu saya rekomendasikan long term buy untuk BUMI karena masih menjanjikan gain yang sangat tinggi di akhir tahun, imbuhnya.
Penguatan harga emas sangat positif, juga karena keikutsertaan BUMI dalam divestasi 10% saham PT Newmont Nusa Tenggara melalui Pemda Kabupaten Sumbawa. Hal ini berpotensi menambah kinerja fundamental BUMI. Makanya saya bilang, level Rp 4.200 di depan mata untuk BUMI, tuturnya.
Hanya saja bandar saat ini belum mau membeli BUMI dalam jumlah besar sekaligus melainkan secara bertahap. Namanya juga bandar, selorohnya. Bagaimana dengan rumors, salah satu perusahaan batubara terbesar di China yang akan memborong saham BUMI setelah Lebaran?
Menurut Irwan memang rumor itu sudah lama. Namun sebenarnya, jika ingin membeli batubara seharusnya langsung ke anak usaha BUMI, PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pasalnya, BUMI hanya holding company.
Di sisi lain, karena kepemilikan saham BUMI tidak ada yang dominan, perusahaan China itu harus membelinya dari pasar. Sementara pemegang saham BUMI kebanyakan berada di posisi Rp 4.000-7.000. Makanya perusahaan itu tidak akan membeli BUMI sekaligus banyak melainkan secara bertahap, ungkapnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.