INILAH.COM, Jakarta - Ada beban yang sangat berat bagi seorang Asmirandah ketika berperan menjadi seorang wanita solehah.
Beban ini lebih banyak pada karakter dirinya yang cenderung aktif dan enerjik. Berbeda dengan karakternya dalam film Ketika Cinta Bertasbih II (KCB II) yang cenderung diam dan pasrah.
Seperti apa sih kok sampai merasakan sulit dan tidak mampu menjadi wanita solehah?
Karakter yang saya perankan, Dokter Vivi, adalah seorang yang sangat lembut. Butuh konsentrasi dan totalitas yang tinggi untuk memerankannya. Beda dengan karakter aku di sinetron yang tidak pakai jilbab. Aku bisa lebih memainkan gerak tubuh dengan leluasa. Kalau di sini kan benar-benar jadi gadis yang sangat baik, solehah, dan pakai jilbab. Pokoknya ayu banget deh.
Berarti ada kesulitan, dong. Adegan apa sih yang membuat kamu tidak bisa total berakting di KCB II?
Adegan waktu di rumah sakit. Di situ aku harus menangis sambil berbicara. Itu sulit, karena di samping total dalam berbicara, aku juga harus total dalam menangis. Ditambah lagi aku kan harus benar-benar memerankan tokoh wanita solehah, jadi nggak bisa sembarangan berakting. Sulit ternyata menjadi wanita solehah.
Katanya sempat kecewa karena tidak berhasil memerankan tokoh Eliana?
Nggak juga. Memang awalnya aku casting untuk tokoh Eliana. Tapi setelah melihat aktingnya Alice Norin, dia memang tepat memerankan Eliana. Karakter dia lebih pas untuk peran itu, dan aku sangat mendukung, karena Kak Alice sudah seperti kakak sendiri.
Banyak orang berkomentar, Andah cantik memakai jilbab. Ada niat mau pakai nggak?
Memang banyak yang berkomentar ke aku. Katanya aku cantik pakai jilbab. Insya Allah, aku sudah niatkan. Tapi untuk saat ini, belumlah. Aku belum punya target, tergantung hidayahnya ya. Kalau sudah kan enak bisa klik dan nyaman memakai jilbabnya. [L1]