INILAH.COM, Gorontalo - Karena minimnya tenaga bidan dan dokter, khususnya di wilayah pedesaan, maka kehadiran dukun beranak sangat membantu proses kelahiran. Namun dukun beranak tetap harus punya kompetensi. Untuk itu dukun beranak dan bidan akan dikolaborasikan.
"Bila dihitung, jumlah dukun beranak mencapai ribuan, sedangkan bidan hanya ratusan orang. Antara dukun beranak dan bidan sebenarnya bisa saling kerjasama dalam melayani proses persalinan," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Suhardi M Nur di Gorontalo, Rabu (16/9).
Menurut dia, mau tidak mau dan suka tidak suka, keberadaan dukun beranak harus mendapat perhatian penuh dari pemerintah. Apalagi di Gorontalo, jumlah dukun beranak lebih banyak jika dibandingkan dengan bidan, yang khusus menangani ibu-ibu melahirkan, terutama di wilayah terpencil.
"Sehingga yang dibutuhkan sekarang ini adalah bagaimana kompetensi para dukun tersebut, sehingga bisa sama dengan bidan dalam bertugas untuk membantu proses melahirkan ataupun persalinan," ujar Nur.
Saat ini, lanjut dia, bidan mengalami krisis kepercayaan, dan tidak disukai bila menangani ibu hamil sampai melahirkan. Hal tersebut menjadi masalah yang harus ditangani dengan serius.
"Kenyataan di lapangan, para dukun lebih perhatian, mulai saat ibu hamil sampai melahirkan. Sedangkan bidan hanya sewaktu melakukan monitor. Jadi, banyak ibu yang hamil dan saat melahirkan lebih mempercayai dukun daripada bidan," urai Nur.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, sambung dia, maka perlu adanya pendataan yang dilakukan, baik terhadap bidan, dukun, maupun ibu hamil dan melahirkan. Sehingga bisa fokus berapa bidan menangani ibu melahirkan di suatu wilayah.
"Atau kalau memang ibu melahirkan ingin melibatkan dukun yang selama ini merawatnya dan sudah diuji kompetensinya, maka akan semakin bagus dalam memperlancar tugas persalinan," pungkas dia. [*/sss]