inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Cintai Budaya Tradisional (1)

Hargai Milik Bangsa Sendiri

Headline
Tari Pendet - ist
Oleh: Babyrock
Selasa, 22 September 2009 | 07:09 WIB
MENTERI Luar Negeri Malaysia berkunjung ke Indonesia, pekan ini. Saat tepat
untuk mengklarifikasi berbagai klaim Malaysia atas budaya milik Indonesia. Namun,
benarkah ini semata kesalahan mereka? Bagaimana tanggungjawab bangsa kita memelihara beragam kebudayaan asli milik Indonesia.


Di akhir masa jabatanya sebagai Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik kembali menghadapi masalah klaim atas budaya Indonesia oleh Malaysia. Tari Pendet, yang jelas-jelas milik Indonesia di klaim sebagai milik Malaysia.
Klaim tersebut terdapat dalam iklan promosi wisata Malaysia. Rakyat Indonesia, kontan meradang. Mereka marah karena ini sudah kesekian kalinya, Malaysia berulah. Mengklaim budaya Indonesia adalah milik mereka.

Sebagai menteri yang mengurusi budaya, Jero Wacik tak tinggal diam. Ia segera meminta klarifikasi pada pihak Malaysia atas klaim tersebut. Malaysia pun meminta maaf atas kekeliruan tersebut.

Seniman dan budayawan asal Malaysia, Suhaemi alias Pak Ngah dalam sebuah perbincangan mengatakan, tidak ada niatan dari Malaysia mengklaim karya budaya milik Indonesia.
"Kita hanya tahu, kita ini negara serumpun,
saling bersaudara. Jadi tidak ada salahnya memperkenalkan budaya milik kita ini," ungkapnya.
Namun, katanya, dalam kasus tari Pendet memang pembuat iklan melakukan kealpaan yakni tidak membuat atau mencantumkan sumber
tarian tersebut.
"Itu jelas bukan tari Malaysia. Malaysia itu Islam, jadi tidak akan ada tarian seperti itu," katanya.
Namun, ia mengakui memang banyak budaya Malaysia dan Indonesia memiliki kemiripan. Maklum, orang Malysia yang memiliki nenek moyang keturunan Indonesia.
"Saya ada darah dari orang Kalimantan, ada juga di Malaysia daerah orang Jawa. Jadi jangan heran, kalau kesenian reog, keris ya
ada juga di sana," ungkapnya.
Malaysia mengklaim, bagaimana kita menyikapinya? Boleh jadi, jangan terburu
nafsu 'mengganyang' Malaysia. Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah selama ini kita sudah memperhatikan dan memelihara seni dan budaya tradisi Indonesia. Jangan-jangan Anda tahu Tari Pendet setelah diributkan di media massa gara-gara diklaim Malaysia saja.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik membenarkan sinyalemen itu. Ia menyayangkan kurangnya perhatian masyarakat terhadap seni-budaya bangsa sendiri. Kurang mau mengapresiasi, bahkan terhadap karya masterpiece yang sudah terdaftar/diinskripsi oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia.

"Untuk solidaritas, ketika terjadi kasus seperti Tari Pendet, dan sebelumnya tahun 2007 Reog Ponorogo, lagu Indang Sungai
Garinggiang
, dan Rasa Sayange diklaim Malaysia, kita cepat bereaksi. Namun,
ketika menggalakkannya di dalam negeri, kita kurang mengapresiasi," katanya.
Tiga karya seni-budaya masterpiece yang telah terdaftar/diinskripsi di UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia adalah Wayang (2003),
Keris (2005), dan yang akan terdaftar Batik, diputuskan akhir September 2009. Lalu, akan disusul dengan pendaftaran Angklung. "Dokumennya sudah disiapkan, diperkirakan tahun 2010 sudah terdaftar di UNESCO," kata Jero Wacik yang baru saja mundur dari jabatannya sebagai anggota kabinet.
Ia menjelaskan, "Kita harus mendorong apresiasi karya seni-budaya di dalam negeri. Ini sebuah perjuangan berat. Perlindungan dan pengembangan warisan budaya esensinya adalah upaya penanaman kembali keyakinan di dalam diri anak bangsa Indonesia bahwa kebudayaan asli kita adalah sesuatu yang
sangat luhur dan membanggakan. Wayang, misalnya, sudah diakui oleh UNESCO, tapi di dalam negeri kurang ditonton. Padahal, wayang itu tinggi nilai filosofinya.

Presiden sudah mempelopori nonton wayang hingga pukul 04.00 pagi. Nilai-nilai kebangsaan, filsafat hidup, dsb bisa disampaikan dalam wayang."
Penyanyi Melayu, Iyeth Bustami mengungkapkan sebegai generasi muda memang ia melihat banyak rekan-rekannya yang lain mulai melupakan seni tradisi. Musik Melayu, katanya, banyak yang kini sudah melupakannya.
"Anak-anak sekarang lebih merasa bangga kalau menyanyi lagu Barat," ungkapnya. Karenanya, ia sudah beberapa lama ini melakukan pengenalan terhadap anak-anak muda untuk kembali mengenal musik Melayu. [Bersambung/Mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.