INILAH.COM, Gorontalo - Tingkat premanisme di Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir, cukup mengkhawatirkan. Hal ini berujung pada penganiayaan Ketua KPU Provinsi Gorontalo, Salahudin Pakaya beberapa waktu lalu, merupakan bukti aksi preman merajalela.
"Mereka berani memukul Ketua KPU di kantornya, ini kan pertanda bahwa para preman tersebut tak takut lagi dengan ancaman penjara," kata Ketua DPRD Provinsi Gorontalo, Marten Taha, Senin (21/9).
Dilanjutkannya, jika polisi tak intensif melakukan razia preman, maka akan menimbulkan keresahan masyarakat. Polisi harus mengusut tuntas aktor intelektual di balik penganiayaan tersebut, agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Hal yang sama juga diakui oleh Gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad, yang prihatin dengan premanisme di daerah tersebut. "Saya sudah bicara dengan pihak Polda, agar semua preman yang berulah ditangkap saja semua, biar masyarakat semuanya tenang," ujarnya.
Fadel mengungkapkan, preman-preman bayaran tersebut merasa tak takut berbuat zalim, karena merasa ada yang melindungi. "Makanya polisi wajib menangkap preman sampai ke tingkat atasnya," ujar Fadel. [*/bar]