INILAH.COM, Jakarta- Hanya butuh beberapa jam saja bagi pengawas nuklir PBB untuk menampik laporan yang menyatakan para ahli telah menyusun dokumen rahasia berupa peringatan menyangkut keahlian Iran untuk membangun senjata nuklir.
"Sehubungan dengan laporan media baru-baru ini, IAEA [International Atomic Energy Agency] menegaskan kembali bahwa lembaga tidak memiliki bukti konkret akan adanya atau telah berjalannya program senjata nuklir di Iran," lembaga berbasis di Eropa tersebut mengatakan dalam pernyataan.
Laporan muncul dari sejumlah ahli yang menyuarakan keprihatinan dan kecurigaan tentang potensi ancaman yang ditimbulkan oleh program energi nuklir Iran. Dan hal ini, dilaporkan menjadi salah satu faktor Presiden Obama mengambil keputusan untuk meninggalkan lokasi pertahanan rudal jarak jauh di Eropa Timur sebagai cara untuk menarik dukungan dari Rusia, agar mendapat balasan dalam menggagalkan ambisi nuklir Iran.
Di tengah semua ketakutan dan kebimbangan, satu fakta yang tindak berubah adalah sangat sulit untuk membangun senjata nuklir tingkat lanjut.
Saya akan mengatakan, mereka setidaknya perlu setahun untuk lebih baik dalam mengembangkan senjata dasar," kata Leonard Spector, Wakil Direktur James Martin Pusat Studi Nonproliferasi.
"Mereka perlu memproduksi sebuah bom dan untuk memasukkannya di hulu ledak rudal adalah hal yang rumit."
Ada banyak informasi yang menjelaskan cara membuat senjata nuklir. Hal ini menjadi jelas di tahun 1967 setelah tiga profesor fisika baru, tanpa pengalaman senjata nuklir mampu membuat desain mumpuni untuk sebuah bom nuklir.
Fisikawan tersebut dipekerjakan oleh para peneliti di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore untuk membantu kesulitan dalam memproduksi senjata nuklir, sebuah proyek yang dikenal dengan nama experimen Nth Country. Rusia merupakan negara kedua yang memproduksi senjata nuklir setelah AS.
Namun, memenuhi kebutuhan material untuk menjadikan bahan bakar bom sangat sulit, seperti senjata uranium yang terbukti sangat sulit saat itu.
Senjata uranium atau isotop U-235 merupakan bentuk yang sangat tidak stabil, hanya satu persen (hingga tujuh persen) konsentrasi bijih uranium. Federasi Ilmuwan Amerika memperkirakan uranium perlu disempurnakan konsentrasinya sekurang-kurangnya 80 persen dari U-235 untuk menjadi kelas senjata, meskipun di atas 90 persen akan lebih baik.
Sebuah cara yang paling populer untuk mendapatkan senjata uranium adalah dengan menggunakan proses sentrifugal gas, di mana bentuk gas yang dikenal sebagai heksafluorida uranium dilepaskan ke dalam silinder yang berputar. Gaya yang dihasilkan oleh silinder memisahkan isotop U-235 dari isotop U-238 yang lebih berat.
Hans Kristensen, direktur dari Nuclear Information Project di Federasi Ilmuwan Amerika mengatakan memperkaya uranium saat ini menjadi mudah bagi negara seperti Iran saat mereka memutuskan untuk memproduksi senjata.[ito]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !