INILAH.COM, Jakarta Geliat ekspansi kredit perbankan mulai nampak, seiring trend penurunan suku bunga kredit pada paruh akhir 2009. Hal ini berimbas positif pada saham sektor properti, baik secara fundamental maupun kinerja emiten.
Head of Research PT Kapita Sekurindo Haryajid Ramelan mengatakan, pasar saat ini kembali aktif, meskipun nilai saham secara umum masih berangsur-angsur turun. Merosotnya indeks regional seiring anjloknya harga komoditas, menekan saham berbasis energi dan tambang.
Namun, ia menilai, sektor properti masih berpotensi menjadi penggerak indeks, terkait tingkat suku bunga yang relatif stagnan. Saat ini sudah menunjukkan adanya tanda-tanda demand di sektor properti, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/9).
Menurutnya, Rapat Dewan Gubernur yang sedianya digelar pekan depan, akan stagnan di angka 6,5%. Namun, tingkat bunga tersebut, dinilai sudah cukup bagus karena memberi jalan bagi era bunga kredit rendah. Banyak konsumen yang mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), mumpung bunganya rendah, tambahnya.
Seperti diketahui, PT Bank Tabungan Negara (BTN) sudah memangkas bunga menjadi rata-rata sebesar 12%. Bahkan untuk promosi hingga November 2009, BTN memasang bunga KPR di angka 9,9% per tahun. Sedangkan PT Bank Central Asia (BCA) dan PT Bank CIMB Niaga kini memiliki suku bunga sekitar 10,5%, turun dari sebelumnya 12,5% per tahun.
Kendati demikian, Haryajid menyarankan investor melihat likuditas saham properti. Jika cukup, dipersilahkan follow the market. Namun jika belum, lebih baik tidak masuk pasar terlebih dahulu. Saham properti yang disarankan adalah PT Summarecon Agung (SMRA). SMRA saya rekomendasikan buy, terkait kinerjanya yang sangat bagus, tandasnya.
Saat ini SMRA sedang mencari pendanaan untuk mengembangkan proyek perumahan seluas 250 hektar di Bekasi Utara. Perseroan juga giat mengembangkan perumahan di kawasan Serpong dan Kelapa Gading. Tahun ini, SMRA menargetkan laba bersih Rp 124 miliar, atau naik 31%.
Sedangkan, Suryadi Chandra Kasih dari eTrading Securities mengatakan, lantai bursa masih akan berlangsung sepi. Namun kondisi ini merupakan pola yang umum terjadi selama September. Secara historis, pola perdagangan sepanjang September adalah tipis, dimana pelaku pasar banyak yang tidak melakukan transaksi, katanya.
Suryadi menyarankan pelaku pasar mulai masuk bursa, mengantisipasi kinerja emiten kuartal ketiga 2009, yang diperkirakan mixed, ketimbang dua kuartal sebelumnya. Hal ini mengingat pada kuartal pertama dan kedua, terjadi lonjakan kinerja dari level terendah di 2008. Sehingga kuartal ketiga ini, kenaikan yang terjadi tidak terlalu tinggi, paparnya.
Terkait suku bunga yang masih rendah, ia merekomendasikan beberapa saham properti seperti PT Ciputra Development (CTRA), PT Ciputra Surya (CTRS), dan PT Summarecon Agung (SMRA). Buy saham-saham ini. Masih ada peluang penguatan, katanya.
CTRA memiliki lahan kosong yang belum tergarap sekitar 1.000 hektar di Jawa dan luar Jawa. Perseroan saat ini mulai aktif berekspansi ke luar Jawa seiring permintaaan landed house yang cukup tinggi. Pendapatan CTRA tahun ini ditargetkan mencapai Rp 1,88 triliun, naik 44,6%.
Demikian pula pengamat pasar modal Gifar Indra Sakti. Menurutnya, saham CTRS berpotensi menguat, seiring kenaikan penjualan akibat trend penurunan suku bunga perbankan. Selain itu, secara teknis emiten ini masih relatif murah. Buy on weakness dengan target harga bergerak di kisaran level Rp 510-550, imbuhnya.
Sedangkan Lydia Suwandi, analis Danareksa Sekuritas merekomendasikan saham PT Alam Sutra Realty (ASRI). Menurutnya, pembukaan akses jalan tol menuju Alam Sutra berpotensi meningkatkan penjualan dan harga jual landed house di kawasan Serpong Tangerang. Saya rekomendasikan beli dengan target harga ASRI mencapai Rp 210, katanya.
Pada semester pertama 2009, pendapatan ASRI mencapai Rp 232,86 miliar, dengan laba bersih Rp 66,52 miliar dan earning per share (EPS) Rp 3,88 per saham. Tahun ini, pendapatan ASRI ditarget mencapai Rp 460 miliar, naik 5% dan laba bersih akan naik 60% menjadi Rp 95 miliar.
Lydia melihat optimisme di kalangan pebisnis properti, sehingga berinvestasi di saham-saham emiten di sektor ini masih prospektif dan menjanjikan laba. Menurutnya, jika penjualan properti selama kuartal ketiga 2009 meningkat, berpotensi besar berlanjut hingga kuartal keempat.
Hal ini didukung nilai saham sektor properti yang masih terlalu murah, terindikasi dari nilai aktiva bersih atau Net Asset Value (NAV) yang masih terdiskon 40-50%. "Ini menunjukkan potensi sektor properti untuk menguat, paparnya. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !