INILAH.COM, Jakarta - Teroris yang tewas dalam penyergapan di Solo dikabarkan bukanlah Noordin M Top, karena keluarga di Malaysia meragukan ciri-ciri fisik yang ada pada jenazah. Bila memang ragu, keluarga pun diimbau untuk berani menolak mengakuinya.
Hal itu diungkapkan pengamat intelijen Al Chaidar kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (29/9). Menurutnya, hal itu perlu dilakukan demi kepentingan perdamaian dunia dari terorisme.
"Lebih baik kalau memang keluarga ragu dan ternyata didesak polisi untuk mengakui saja jenazah itu adalah Noordin, sebaiknya menolak saja. Karena itu akan gawat, bila ternyata Noordin memang benar-benar masih hidup," katanya.
Menurutnya, selain akan membahayakan negara, kenyataan bahwa Noordin masih hidup akan mencoreng prestasi kepolisian Indonesia. Baik itu di mata masyarakat Indonesia maupun di mata dunia internasional.
"Yang gawatnya itu nanti, apa jadinya kalau Noordin tiba-tiba nongol dan masih hidup. Itu akan mencoreang nama baik kepolisian di tengah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap polisi," ungkap Dosen Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh ini.
Ia menyatakan, dalam jaringan aktivis jihad di lingkaran Noordin memang ada juga yang meragukan kebenaran hasil tes DNA dan sidik jari Polri terhadap jenazah Noordin. Sebab, memang ada beberapa hal yang janggal dan berbeda dari keterangan-keterangan polisi sebelumnya.
"Seperti dulu polisi pernanh menyatakan bahwa Noordin selalu memakai rompi bom bunuh diri, tapi ternyata saat di Dolo tidak. Lalu wajahnya itu terlalu tua bila dibandingkan dengan sketsa wajah Noordin yang beredar. Ini perlu ada pengusutan lebih lanjut terhadap kebenaran dari hasil kepolisian Indonesia," imbuhnya. [mut]