INILAH.COM, Jakarta - Polri menegaskan bahwa keterlibatan Muhammad Jibril dengan jaringan teroris di Indonesia tidak mengada-ada. Disebut-sebut Syaifuddin Zuhri dan Jibril berniat membentuk simpul baru.
"Jibril juga kemungkinan membangunan simpul baru dengan Syaifuddin Zuhri dan telah menerima dana dari kelompok yang mengalirkan dana untuk kepentingan organisasi mereka," kata Kanit Lima IT Cyber Crime Petrus Golose di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (29/9).
Menurut Petrus, berdasarkan surat Syaifuddin Zuhri, Jibril berperan berhubungan dengan luar negeri. Dan Jibril memang sering ke luar negeri.
Di saat penangkapan, lanjut Petrus, mereka juga menemukan bukti dan tetap menggunakan asas praduga tak bersalah.
"Ada kaitan antara Jibril dan Zuhri di mana mereka berangkat ke Arab Saudi bersama dan menggunakan paspor yang palsu," terang Petrus.
Petrus mempersilakan pihak Jibril menolak segala tuduhan. Namun berdasarkan banyak bukti yang dipegang pihak penyidik Polri, serta alasan logis, mengarahkan bahwa Jibril terkait dalam jaringan tersebut.
"Bukti lengkapnya nanti akan kita sampaikan lebih lanjut dan tidak sekarang karena berhubungan dengan strategi penyelidikan. Jibril juga pernah sekolah di Pakistan dan menjadi bagian kelompok Al Gurabah," imbuhnya.
Selama tinggal di Pakistan, lanjut Petrus, Jibrik berhubungan dan membangun hubungan dengan jaringan Al Qaida.
"Memang pasca penyerangan WTC 9/11 jaringan ini sempat terpecah, tapi dengan kemajuan IT sekarang, kemudian jaringan ini dibangun kembali," paparnya. [ana]