Sabtu, 26 Mei 2012 | 18:35 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pro Kontra Jenazah Gembong Teroris (2-Habis)
Polemik Noordin Tak Kunjung Padam
Headline
Noordin M Top - inilah.com/Wirasatria
Oleh: Raden Trimutia Hatta & Bayu He
web - Rabu, 30 September 2009 | 07:29 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Keraguan atas matinya Noordin M Top dalam penyergapan di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, terus mengemuka. Banyak pihak meragukan Noordin telah tewas, tetapi Polri tetap bergeming. Siapa yang benar?

Adalah Direktur Pusat Studi Intelijen dan Kemanan Nasional (SIKNAL) Dynno Creesbon yang angkat bicara seputar keraguan kematian Noordin. Menurut analis terorisme ini, ciri-ciri yang disampaikan Polri berbeda jauh dengan yang dimiliki dan pengakuan kerabat Noordin. DPO teroris asal Malaysia itu disebut memiliki bekas luka di alis mata kiri.

"Selain itu, gigi ginsul, mata agak terbeliak (melotot), kedua alisnya terangkat, tidak memiliki bulu tangan dan ada bekas luka di pinggul kiri," beber Dynno mengutip pernyataan mantan ajudan Noordin yang tidak ingin disebutkan namanya.

Ciri lain yang dicatat Dynno seputar Noordin yakni kawalan 4 ajudan dan adanya 4 kendaraan roda dua yang selalu siaga didekat buron teroris nomor wahid itu. Masalahnya, dua ciri tersebut tidak tampak dalam penyergapan Solo.

"Selalu menggunakan rompi bom, dan tidak pernah menggunakan HP serta tidak pernah menggunakan laptop. Noordin juga tidak pernah bersembunyi dengan DPO polisi," ucapnya.

Hal senada juga dilontarkan mantan Presiden Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid. Ia mengaku sangsi pria brewokan yang tutup usia 17 September silam adalah benar Noordin. "Saya tidak percaya kalau yang mati itu Noordin," jawab Gus Dur.

Dirinya mengaku bukan tanpa alasan ragu terhadap prestasi Polri. Menurutnya, identifikasi jasad yang cepat adalah satu dasar yang membuat dirinya tidak yakin. "Ya iya itu tercepat (identifikasi jenazah Noordin)," ujar Gus Dur.

Pengamat terorisme, Al Chaidar menambahkan dalam jaringan aktivis jihad di lingkaran Noordin memang ada juga yang meragukan kebenaran hasil tes DNA dan sidik jari Polri terhadap jenazah Noordin. Terlebih ada beberapa hal yang janggal dan berbeda dari keterangan-keterangan polisi sebelumnya.

"Seperti dulu polisi pernanh menyatakan bahwa Noordin selalu memakai rompi bom bunuh diri, tapi ternyata saat di Solo tidak. Lalu wajahnya itu terlalu tua bila dibandingkan dengan sketsa wajah Noordin yang beredar. Ini perlu ada pengusutan lebih lanjut terhadap kebenaran dari hasil kepolisian Indonesia," jelas mantan aktivis NII ini.

Karena itu, bila memang bukan Noordin, Chaidar mengusulkan keluarga di Malaysia berani angkat bicara. Hal ini penting untuk menjaga keamanan dunia dari aksi teror. "Lebih baik kalau memang keluarga ragu dan ternyata didesak polisi untuk mengakui saja jenazah itu adalah Noordin, sebaiknya menolak saja. Karena itu akan gawat, bila ternyata Noordin memang benar-benar masih hidup," ketus pengajar Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh ini.

Dan jika Noordin belum tewas maka tentu saja reputasi Polri akan tercoreng. Baik di Indonesia maupun di mata publik internasional. "Yang gawatnya itu nanti, apa jadinya kalau Noordin tiba-tiba nongol dan masih hidup. Itu akan mencoreng nama baik kepolisian di tengah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap polisi," kata Chaidar.

Meski disangsikan banyak pihak, institusi Polri tetap kukuh dengan pendiriannya. Salah satu korban tewas dalam aksi Densus 88 Polri di Solo adalah Noordin M Top. "Lho, itu terserah mereka. Yang terpenting berdasarkan pemeriksaan DNA, sidik jari, yang kita lakukan itu sudah jelas itu Noordin," jawab Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna.

Baginya, Polri sudah melakukan semua prosedur yang ada. Korps Bhayangkara itu sudah melakukan pencocokkan sample darah dua istri dan anak-anak Noordin. Istri yang ada di Malaysia dan istri dua anak di Cilacap, selain memastikan melalui tes sidik jari.

"Kalau kita berdasarkan pemeriksaan itu Noordin. Kita mempunyai prosedur yang tidak sembarang dalam menyatakan Noordin atau bukan," tegas Nanan.

Menjawab pro kontra seputar kematian Noordin memang tidaklah gampang. Meskipun Polri mengeluarkan sejuta dalih, keraguan terhadap tewasnya Noordin akan tetap mengemuka. Apalagi, saat tewas, ciri-ciri Noordin yang pernah dijelaskan Polri semisal rompi bom bunuh diri tidak ada di lokasi kejadian.

Ke depan, sudah seharusnya Polri lebih mengedepankan aksi melumpuhkan atau menangkap hidup-hidup ketimbang mematikan teroris. Dengan begitu, polemik bisa ditiadakan dan pengusutan jaringan terorisme bisa lebih maksimal. [habis/ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
kudama
Rabu, 30 September 2009 | 11:00 WIB
pengamat Goblog dan Bego kok diikutin, matanya merem kok ikut komentar pendapatnya gak ilmiah babar blas!, masak DNA kalah sama luka robek. dasar gebleg...
yayan
Rabu, 30 September 2009 | 10:16 WIB
nordin atau bukan...yang penting sasarannya bukan warga sipil muslim...tapi salibis dan zionis
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.