INILAH.COM, Jakarta - Harus dibedakan polisi yang bekerja di bagian penyidik dengan polisi yang di bagian kedokteran. Seharusnya, informasi teroris Noordin M Top suka berhubungan dengan pria seharusnya tidak dibeberkan ke publik.
"Polisi mana, polisi itu memang menyelidiki, memang mengutak-atik dubur. Ada di polisi ada yang di bagian penyidik dan ada yang di bagian kedokteran. Itu harus dibedakan," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (30/9).
Seperti diketahui, jenazah teroris yang tewas di Solo banyak diragukan kebenarannya bahwa itu adalah Noordin M Top. Menurut ahli forensik RSCM dr Mun'im Idris, ada kejanggalan berupa bentuk corong di dubur jenazah teroris asal Malaysia itu.
Dikatakannya, ada kelainan berbentuk corong di duburnya, seperti orang yang biasa disodomi. Kemungkinan Noordin biseksual. Kejanggalan itu ditemukannya saat memeriksa kebenaran bahwa jasad yang tewas di Solo itu merupakan Noordin M Top.
"Itu rahasia kedokteran, saya tidak tahu memang yang berbicara siapa? Itu harus dirahasiakan tidak boleh diumumkan. Ada kode etiknya, itu soal visum etrepesum," ujar Nanan menanggapi informasi dari dokter RSCM tersebut. [bar]