INILAH.COM, Sidoarjo - Gempa Sumbar mengundang keprihatinan mendalam. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo pun melelang batik tua berusia setengah abad khas Kabupaten Sidoarjo, Jatim. Hasilnya akan digunakan membantu korban gempa Sumbar.
"Lima lembar batik akan diikutkan dalam lelang kali ini. Kelima kain batik itu rata-rata berusia sekitar 50 tahun. Proses pembuatannya masih tradisional," kata Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sidoarjo, Emy Susanti, di Sidoarjo, Jumat (2/10).
Selain akan diberikan kepada korban gempa, lanjut dia, sebagian dari lelang tersebut akan diberikan kepada Koperasi Batik Sidoarjo untuk mengembangkan batik di Sidoarjo.
Emy yang juga istri Bupati Sidoarjo, Win Hendrarso ini, mengatakan, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, batik Sidoarjo sudah eksis lebih dari 100 tahun dan memiliki corak dan ciri khas tersendiri.
Harga batik satu potong yang dipatok perajin Rp 1,5 juta, dalam lelang ini harganya bisa menjadi tinggi hingga Rp 5 juta. "Harga patokan perajin akan kami berikan dan harga selebihnya akan kami bantukan ke koperasi atau paguyuban batik, serta juga para korban gempa," katanya.
Ia juga mengucapkan terima kasih dan gembira atas semangat jajaran Pemkab Sidoarjo yang juga sebagai para peserta lelang untuk membeli kerajinan Batik. "Hal ini membuktikan jika warga Sidoarjo masih banyak kepeduliannya untuk mengulurkan tangan dan peduli terhadap kerajinan batik," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Koperasi dan Perajin Batik Kabupaten Sidoarjo, Nurul Huda, mengaku senang dengan diakuinya batik di mata dunia. "Dengan adanya pengakuan yang dilakukan oleh Lembaga PBB melalui UNESCO akan memberikan titik cerah bagi perajin batik," katanya.
Ia juga berharap supaya kerajinan batik ini tetap eksis dan ada generasi yang menggantikan. "Karena dengan adanya regenerasi, keberadaan batik bisa tetap terjaga hingga turun temurun," harapnya. [*/sss]