INILAH.COM, Jakarta - BEI menilai produk derivatif masih belum terserap pasar secara maksimal, karena masih minimnya anggota bursa (AB) yang mau bertransaksi dan disinyalir investor kekurangan modal.
Hal itu dikatakan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito. "AB yang melakukan transaksi hanya sebanyak 34, jumlah AB sebanyak 117," tutur Ito di Jakarta, Jumat (2/10).
Saat ini, produk derivatif di BEI yang sudah secara resmi ditransaksikan adalah kontrak opsi saham, kontrak berjangka indeks (LQ 45 Futures).
Ia mengungkapkan, bahwa produk derivatif baru adalah untuk meningkatkan likuiditas pasar bursa serta sebagai sarana bagi para investor untuk melakukan hedging atau lindung nilai.
Ia menjelaskan, produk derivatif merupakan produk turunan dari produk utama baik yang bersifat penyertaan maupun utang. Produk derivatif merupakan kontrak atau perjanjian yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini biasanya disebut sebagai underlying assets.
Derivatif digunakan oleh manajemen investasi atau manajemen portofolio, perusahaan dan lembaga keuangan serta investor perorangan untuk mengelola posisi yang mereka miliki terhadap resiko dari pergerakan harga saham dan komoditas, suku bunga, nilai tukar valuta asing tanpa mempengaruhi posisi fisik produk yang menjadi acuannya underlying. [*/hid]