Senin, 28 Mei 2012 | 19:17 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Berbatik, Pengojek Galang Dana Gempa
Oleh: Adira Budiasih
web - Jumat, 2 Oktober 2009 | 17:10 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Anjuran memakai batik pada hari Batik Nasional, Jumat (2/10), ternyata tak hanya ditanggapi oleh pegawai negeri sipil ataupun karyawan kantoran. Bahkan bagi mereka yang terbilang berprofesi rendah seperti pengojek pun berantusias untuk mengikuti ajakan pemerintah tersebut.

Seperti yang terlihat di Pangkalan ojek Perempatan Pasar Kemis, Kedoya Selatan, Jakarta Barat. Sekitar 20 pengojek dengan semangat mengenakan batik kebanggaan mereka sambil menunggangi kendaraan roda dua andalan. Sikap ramah mereka pun semakin terlihat saat pelanggan datang menghampiri.

Hebatnya lagi, saat sepi pelanggan, puluhan pengojek Pasar Kemis ini bahkan dengan spontan mengumpulkan dana untuk para korban gempa di Sumatra Barat.

Tak hanya mereka yang menyumbang, para pelanggan bahkan pengguna kendaraan dan warga sekitar yang melintas pun tak urung ikut memberi sebagian harta mereka untuk para korban gempa. Mulai dari uang logaman, lembaran seribu hingga pecahan 50 ribu tampak mengumpul di kardus bekas kemasan mi instant yang ditempelkan bertuliskan "Sumbangan Korban Gempa Sumatra Barat".

Munadi (37), bapak beranak 3 yang telah mengandalkan hidup dengan mengojek sejak tiga tahun lalu di lokasi ini mengataku bangga mengenakan batik. "Saya bangga mas dan saya tidak ingin batik diakui oleh negara lain. Setiap tanggal 2 Oktober saya pasti akan memakai batik," ujar pengojek bermotor Jupiter Z merah yang hari ini berpakaian batik coklat.

Hal senada disampaikan Sutaryo (28), bapak beranak dua yang setiap harinya mengendarai Supra Fit hitam untuk mengojek. "Dari dulu memang saya sering pakai batik untuk acara kondangan, sunatan, dan pengajian. Saya kecewa mas kalau batik ini diakui oleh negara lain. Batik adalah warisan leluhur bangsa indonesia," ujar Sutaryo.

Sementara mengenai aksi penggalangan dana untuk korban gempa menurut Munadi dan Sutaryo merupakan aksi solidaritas yang spontanitas. "Kita merasa sedih dengan bencana yang mereka alami. Ini spontanitas kami meski yang terkumpul nanti tidak seberapa," ujar Munadi diamini teman-temannya. [bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.