INILAH.COM, Jakarta Punya berat badan berlebih? Atau, berat badan Anda terus meningkat pesat? Waspadalah! Sebab, ancaman disfungsi ereksi sudah ada di depan Anda. Penelitian membuktikan ada kaitan antara obesitas dan disfungsi ereksi.
Pria dengan berat badan berlebihan, memiliki risiko lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi. Ini biasanya disebabkan oleh aterosklerosis yang ada kaitannya dengan hipertensi dan gangguan kardiovaskular.
Sekitar 30-40% laki-laki yang berusia di atas 50 tahun pernah mengalami disfungsi ereksi. Ini antara lain disebabkan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik. Ini yang membuat mereka mengalami peningkatan risiko mengalami disfungsi ereksi.
Berkembangnya plak aterosklerotik pada arteri pria yang mengalami obesitas, dapat merusak dinding arteri. Ini bisa memberikan kontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Selain aterosklerosis, perubahan hormonal yang menyertai obesitas, termasuk testosteron yang lebih rendah, telah meningkatkan pula risiko disfungsi ereksi.
Faktor risiko yang bisa dimodifikasi untuk gangguan jantung, termasuk kelebihan berat badan, diabetes, dan hipertensi, pada umumnya sama dengan yang untuk disfungsi ereksi. Penelitian menunjukkan, menurunnya berat badan dan meningkatnya akivitas fisik bisa meningkatkan disfungsi ereksi.
Dalam artikel Obesity and Erectile Dysfunction, Adam Gilden Tsai dari Univeritas Colorado Denver, dan David Sarwer dari Universitas of Pennsylvania School of Medicine, memberi contoh. Mereka menggambarkan seorang laki-laki berusia 48 dengan gangguan obesitas ringan. Beratnya 197 pon, indeks massa tubuhnya 32,6 kg/m2, dan mengalami hipertensi yang diderita dari disfungsi ereksi.
Bahkan dengan menggunakan obat-obatan untuk mengatasi disfungsi ereksi, seperti viagra, Cialis, Eli Lily, dia tak dapat mencapai ereksi normal saat bersetubuh. Setelah menjalani konseling diet, penurunan berat badan sebanyak 4,6%, dan menimun obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah sehingga mencapai kisaran normal (112/77 mm Hg), dia akhirnya mampu mencapai ereksi yang sempurna dengan bantuan penggunaan obat-obatan disfungsi ereksi yang dibutuhkan.
Keduanya juga berkesimpulan, komplikasi pengaruh antara berat badan dan kondisi kesehatan lainnya, berkaitan dengan gejala medis seperti umumnya, seperti disfungsi ereksi. Gilden Tsai dan Sarwer mengingatkan, aterosklerosis dapat menyebabkan penyakit, tidak hanya makrovascular seperti serangan jantung dan stroke, melainkan juga penyakit mikrovaskular, semisal disfungsi ereksi.
Karena itu, begitu James O. Hill, Pemimpin Redaksi Obesity and Weight Management, kini makin banyak alasan menurunkan berat badan bagi penderita obesitas. "Jika kita mencari alasan lain untuk menurunkan berat badan, riset kini menunjukkan bahwa disfungsi ereksi bisa diatasi dengan menurunkan berat badan," ujar Hill yang juga Profesor Pediatrik dan Obat-obatan serta Direktur Pusat Nutrisi Manusia dan Unit Riset Klinik Nutrisi Colorado di Universitas Colorado, Denver. [mor]