INILAH.COM, Jakarta - Pilkada langsung selama ini terbukti dinilai kurang efektif. Mulai dari sisi penggunaan dana maupun dampak psiko-sosialnya di lapisan masyarakat.
"Kita belum siap untuk memilih gubernur secara langsung," kata pria yang pernah bergabung dalam grup lawak Bagito itu di Jakarta, Sabtu (3/10).
Miing yang terpilih dari Dapil Pandeglang, Banten, menegaskan, wilayahnya menjadi salah satu bukti ketidakefektifan Pilkada langsung.
"Itulah yang selama ini saya temui di lapangan. Jadi, sebenarnya saat ini tidak perlu pilkada langsung. Bupati atau gubernur lebih baik ditunjuk saja," ucapnya.
Selain menelan dana yang besar, Pilkada langsung juga berpotensi memecah-belah persatuan. Oleh karena itu, ia menilai, pilkada langsung termasuk pemekaran wilayah dan sistem otonomi daerah tidak berjalan efektif dan signifikan seiring perkembangan dinamika masyarakat.
"Gubernur sudah jadi, misalnya, tapi permusuhan antarsaudara masih belum juga usai," tuturnya lagi.
Ia juga menilai, selama ini para pemimpin daerah seperti bupati di tingkat kabupaten/kotamadya tidak ada kontrolnya sama sekali.
"Karena itu saya ingin berjuang di komisi yang berkaitan dengan hal ini di parlemen," katanya.
Miing secara khusus menilai secara substansial pada dasarnya konsep otonomi daerah sudah cukup baik. Sayangnya pelaksanaan dan faktanya di lapangan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan otonomi daerah dikonsepkan ada perimbangan alokasi anggaran antara daerah dengan pusat, mendekatkan layanan publik ke tingkat masyarakat terbawah, dan memperkuat pertumbuhan daerah. Hal itulah yang sangat ingin ia perjuangkan di kursi parlemen demi terwujudnya reformasi birokrasi. [*/ana]