Minggu, 27 Mei 2012 | 09:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Prediksi IHSG
'Trading Buy' ANTM, TINS, ADRO & BUMI
Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh: Asteria
web - Senin, 5 Oktober 2009 | 06:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta Pada perdagangan Senin (5/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak terbatas. Beberapa saham yang direkomendasikan adalah ANTM, TINS, ADRO dan BUMI.

Pengamat pasar modal Krishna Dwi Setiawan mengatakan, bursa awal pekan ini sulit menguat. Namun, pelemahannya pun terbatas. IHSG akan tertahan di level resistan, sekaligus angka psikologis 2.500. Indeks akan cukup lama bisa bertahan di situ, ujarnya kepada INILAH.COM.

Ia menilai, secara teknikal pergerakan IHSG tidak terlalu bagus. Faktor eksternal menjadi dominan, pasalnya tidak banyak katalis lokal yang dapat menggerakkan bursa secara signifikan. Alhasil, kenaikan IHSG terbatas di level 2.500, katanya

Indeks akhir pekan lalu masih bisa bertahan karena bursa WallStreet tidak terkoreksi terlalu dalam. Market domestik juga masih kuat, didukung rebound-nya harga komoditas, dengan harga minyak kembali menyentuh level US$70 per barel. Dengan situasi pasar yang relatif kurang kondusif, tidak banyak capital outflow . Hal ini karena investor asing masih bertahan di pasar,ujarnya.

Menurutnya, investor asing memiliki persepsi, bahwa di tengah ekonomi AS yang melambat, investasi di Indonesia masih lebih menarik. Hal ini terkait imbal hasil tinggi yang ditawarkan. Apalagi peringkat utang Indonesia telah dinaikkan oleh Moodys. Dengan masih adanya capital inflow , berarti, ketika terjadi pelambatan pemulihan di AS, tidak terlalu pengaruh ke Indonesia, paparnya.

Krshna mengatakan, akan ada gangguan pada angka pertumbuhan GDP nasional akibat bencana gempa di Sumbar. Pasalnya, tanah minang ini biasanya menyumbangkan 1-1,5% terhadap GDP nasional. Apalagi di Sumbar ada perusahaan semen Padang yang mewakili 5% produksi semen nasional.

Dengan banyak saham yang terkoreksi pekan lalu, investor bisa selective buying saham. Pilihannya adalah saham komoditas, seperti PT Aneka Tambang (ANTM), PT Timah (TINS), PT Adaro (ADRO) dan PT Bumi Resources (BUMI). Investor bisa trading buy pada saham-saham ini, katanya.

Namun, lanjutnya, ia menyarankan agar investor tidak memilih saham minyak kelapa sawit (CPO). Dengan kondisi berlebihnya stok CPO di Malaysia, harga komoditas ini pun merosot. Hal serupa menimpa komoditas substitusi CPO yaitu kedelai, yang harganya turun karena baru mengalami panen raya. Permintaan kedelai memang lebih tinggi dari CPO karena harganya yang lebih rendah, ujarnya.

Koreksi bursa AS dapat menekan pergerakan IHSG. Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah, dipicu sentimen negatif sejumlah indikator ekonomi. Indeks Dow Jones melemah 21.61 poin (0.23%) ke level 9,487.67, indeks S&P 500 merosot 4.64 poin (0.45%) ke level 1,025.21 dan indeks Nasdaq turun 9.37 poin (0.46%) ke level 2,048.11.

Sepekan kemarin, Dow Jones turun 1.8%, S&P 500 melemah 1.8%, dan Nasdaq turun 2%.Data manufaktur factory orders Agustus turun 0.8%, setelah kemarin ISM manufaktur merosot. Selain itu, tenaga kerja September turun 263 ribu orang dan tingkat pengangguran naik 9.8%.

Pada perdagangan Jumat (2/10) akhir pekan lalu, IHSG ditutup naik tipis 1,877 poin (0,08%) ke level 2479,848. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan nilai transaksi Rp 4,432 triliun, dengan volume 5,042 miliar lembar dan frekuensi 98.569 kali. Sebanyak 112 saham mengalami penurunan, 80 saham naik, dan 74 saham stagnan.

Emiten-emiten yang terpantau menguat antara lain PT Multi Bintang Indonesia (MLBI) yang naik Rp 3.500 menjadi Rp 130.000, PT Indocement (INTP) naik Rp 700 menjadi Rp 11.500, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 250 ke Rp 24.050, PT Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 250 menjadi Rp 8.750, dan PT Medco Energi (MEDC) naik Rp 175 menjadi Rp 3.250.

Sedangkan beberapa emiten yang melemah antara lain PT Gudang Garam yang ditutup turun Rp 400 menjadi Rp 14.500, PT Cahaya Kalbar (CEKA) turun Rp 290 menjadi Rp 1.200, PT United Tractors (UNTR) turun Rp 200 ke Rp 15.200, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 8.550, dan PT Smart (SMAR) turun Rp 150 ke Rp 3.250.

Saham PT Astra International (ASII) memimpin pelemahan bursa dengan turun Rp 850 menjadi Rp 32.650. Koreksi bursa juga disebabkan penurunan saham PT Bumi Resources (BUMI) yang mendominasi perdagangan, dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,3 triliun, atau 29,5% transaksi bursa. Saham BUMI ditutup turun Rp 50 ke level Rp 3.075.[mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
5 Komentar
Hayoo sapa
Senin, 5 Oktober 2009 | 22:17 WIB
Ha ha ada BDnya sih yg ngasih tahu pasti
Coki Goreng BD
Senin, 5 Oktober 2009 | 20:34 WIB
Uhhh cool mas, sukses selalu ..
Pemerhati
Senin, 5 Oktober 2009 | 18:34 WIB
Inilah.com ini situs portal umum, tapi kelengkapan informasi sahamnya mantap banget, seperti situs khusus pasar modal. Salut deh $-)
Budi Sanusi
Senin, 5 Oktober 2009 | 18:16 WIB
Tambah informatif aja nih berita nya pakai grafik yg menunjang buat informasi kita. Terima kasih
Investor
Senin, 5 Oktober 2009 | 18:14 WIB
Wuiih keren euy, sudah pake candle charts sekarang... Salut !!
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.