INILAH.COM, Jakarta Awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memerah, dipimpin anjloknya saham grup Astra. Hal ini mengabaikan perdagangan saham MEDC yang mengkontribusikan 21,5% nilai transaksi bursa.
Pada perdagangan Senin (5/10) sesi siang, IHSG melemah 9,056 poin (0,37%) ke level 2.470,792. Indeks saham unggulan LQ 45 turun 3,529 poin (0,88%) ke level 483,963. Volume transaksi tercatat 3.277 juta lembar saham, senilai Rp 1,873 triliun dengan frekuensi 54.365 kali. Sebanyak 87 saham naik, 60 saham turun dan 83 saham stagnan.
Hampir semua sektor melemah, kecuali sektor properti dan industri dasar. Adapun koreksi dipimpin sektor aneka industri yang mencatatkan penurunan 1,4%, disusul infrastruktur 0,8%, perkebunan 0,7%, perdagangan dan manufaktur 0,4%. Setelah itu sektor konsumen, finansial dan tambang sebesar 0,2%.
Saham grup Astra terpantau memimpin penurunan bursa siang ini. PT Astra International (ASII) turun 1,83% menjadi Rp 32.050, PT United Tractor (UNTR) turun 1,64% ke Rp 14.950 dan PT Astra Argo Lestari (AALI) merosot 0,95% menjadi Rp 20.750.
Koreksi ini meredam bangkitnya saham PT Medco (MEDC) yang naik 3,84% ke level Rp 3.375. Nilai transaksi MEDC yang mencapai Rp 402 miliar, mengkontribusi 21,5% total transaksi bursa.
Ikhsan Binarto, analis PT Optima Securities memperkirakan pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti akan melemah seiring rontoknya bursa regional. Indeks akan bergerak pada kisaran support Rp 2.430 dan Rp 2.490 untuk level resistance-nya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (5/10).
Pelemahan bursa regional, lanjut Ikhsan, disebabkan turunnya harga minyak dunia ke level US$ 69 per barel. Bursa Korea Selatan memimpin pelemahan bursa Asia dan AS seiring dimulainya kembali perdagangan setelah liburan dengan saham finansial dan logam melemah terdalam.
Koreksi bursa Asia terjadi seiring negatifnya bursa AS akhir pekan lalu, setelah perkembangan manufaktur lebih rendah dari yang diantisipasi dan pengangguran naik ke level 26 tahun tertinggi. Data manufaktur AS bulan lalu menunjukkan klaim pengangguran sebesar 551.000 dan tingkat pengangguran mencapai 9,8%.
Sedangkan dari dalam negeri, IHSG melemah seiring ekspektasi dipertahankannya BI rate di level 6,5%. Hal ini berpengaruh negatif, karena tidak ada sesuatu yang menjadi sentimen penggerak indeks.
Kecuali, jika BI rate diturunkan hari ini, akan berpengaruh sangat positif bagi pergerakan indeks terutama sektor keuangan, semen, dan otomotif. Pasalnya, suku bunga kredit nantinya akan semakin turun, imbuhnya.
Menurut Ikhsan, sentimen positif hanya berasal dari pergerakan nilai tukar rupiah yang relatif menguat. Namun, mata uang RI ini pun tidak akan berhasil menggiring indeks ke teritori positif. Karena, investor asing masih terus melakukan aksi jual, akibat nilai tukar rupiah yang masih terus menguat, imbuhnya.
Adapun saham-saham pilihannya hari ini adalah PT Alam Sutera Realty (ASRI), PT Alakasa Industrindo (ALKA), PT Berlian Laju Tangker (BLTA), PT Aneka Tambang (ANTM) dan PT Semen Cibinong (SMCB). Saya rekomendasikan buy untuk saham-saham tersebut baik jangka menengah maupun panjang, pungkasnya.
Di sisi lain, Valbury Securities menuturkan, saat ini IHSG mengalami stochastic overbought dengan candlestick berbentuk dragonfly. Hal ini seiring pergerakan anomali pada perdagangan akhir pekan lalu. Dengan demikian, IHSG kemungkinan akan bergerak pada kisaran 2.440-2.510, imbuhnya.
Seperti diketahui, hampir sepanjang pekan lalu IHSG menunjukkan pergerakan yang berbeda dari trend indeks bursa saham global. Awalnya mungkin pelaku pasar masih menganggap wajar perbedaan itu. Namun tiga hari bergerak anomali (outperform) sungguh sebuah kenyataan yang sama sekali di luar skenario orang pada umumnya, paparnya.
Penguatan pada IHSG justru terjadi saat sentimen domestik tengah diterpa sejumlah bencana alam nasional. Yang lebih mengejutkan, akhir pekan lalu, ketika IHSG hampir saja menyentuh level psikologis 2.500 padahal Dow anjlok lebih dari 200 poin.
Jika kondisi seperti ini berlanjut, lanjutnya, faktor non teknis maupun teknis tampaknya akan sulit dijadikan rujukan untuk memprediksi pergerakan indeks. Karena seandainya pekan lalu IHSG melemah mengikuti penurunan indeks global, maka saat ini indikator stochatic oscillator seharusnya telah oversold, ulasnya.
Menurutnya, bagi investor ritel kondisi ini tidak banyak pengaruhnya, karena fluktuasi harga hanya terjadi pada sejumlah kecil saham big-caps seperti ASII, BBCA, dan INTP. Sedangkan sebagian besar saham lain cenderung mengalami stagnasi. Potensi koreksi hari ini tetap terbuka pada saham big-caps, imbuhnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !