inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Awas, Gempa di Lantai Bursa

Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh: Bastaman
Senin, 5 Oktober 2009 | 14:32 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Kalau diibaratkan lomba lari lintas alam, pekan ini Bursa Efek Indonesia (BEI) agaknya harus melewati jalan terjal dan berliku yang posisinya berada di tepi jurang. Kondisi perekonomian AS yang belum stabil bisa menjadi batu sandungan.
Kebetulan saja, pekan lalu BEI berada di jalan yang enak di bawa lari sehinga indeks selama lima hari transaksi mencatat kenaikan 35,23 poin (1,44%) dan ditutup di level 2.479,85.
Tapi, pekan ini, medan yang harus dilalui BEI cukup berat. Jadi, ada kemungkinan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terperosok ke jurang. Penyebabnya masih yang itu-itu juga, yakni kesehatan perekonomian Amerika yang belum stabil.
Data yang diterbitkan pemerintah Amerika Serika akhir pekan lalu memberikan indikasi bahwa perekonomian negara ini masih menghadapi masalah sistemik yang bisa menguncang dunia.
Angka pengangguran pada September, misalnya, naik ke titik 9,8%. Sementara permintaan terhadap barang-barang industri pengolahan mengalami penurunan 0,8%.
Buruknya perkembangan ekonomi Amerika itu langsung direspon pelaku pasar, sehingga saham-saham di New York mengalami koreksi yang cukup tajam. Index Dow Jones Industrial Averaga turun 0,23% ke titik 9487,37. Sementara S&P merosot 0,45%.
Itu sebabnya, walau pun saat ini sudah banyak efek yang mengalami koreksi, bukan berarti saham-saham tersebut tidak akan turun lagi harganya. Peluang turun masih terbuka, kata seorang analis dari Kresna Securities. Tak kecuali saham-saham yang masuk ke dalam dalam kelas unggulan seperti PT Telkom (TLKM), PT Astra Internasional (ASII), dan PT Bank Central Asia (BBCA).
Kendati begitu, bukan berarti dilarang mengoleksi saham. Hanya saja, menurut analis tadi, jangan dalam jumlah besar. Belum waktunya, karena masih ada kemungkinan indeks terkoreksi, imbuhnya.
Ia menyarankan investor membeli dengan cara akumulatif. Jangan lupa kumpulkan saham-saham yang fundamentalnya kuat. Sebab, kelak, efek-efek tersebutlah yang bakal menjadi penopang utama kenaikan indeks. [E1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.