INILAH.COM, Mataram - SMS isu gempa dahsyat yang diserta tsunami beredar di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Isu tersebut meresahkan masyarakat Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Utara, sehingga membuat mereka mengungsi ke bukit.
Anwar warga Dusun Telok Dalem, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara Anwar Selasa (6/10) mengaku meneriam SMS tersebut. Isi SMS yang menyebutkan akan terjadi gempa dahsyat disertai tsunami Selasa dini hari mengakibatkan sebagian warga tidak berani tidur di dalam rumah.
"Saya bersama keluarga dan beberapa warga lain terpaksa tidur di luar rumah kaerna ada isu bahwa akan terjadi gempa dahsyat seperti yang memporakporandakan Sumatra Barat," katanya.
Bahkan, lanjutnya, ada sebagian warga yang bersiap-siap mengungsi ke atas bukit yang ada di dekat perkampungan. Karena melalui SMS tersebut juga disebutkan gempa disertai tsunami.
Menurut Anwar, dia bersama warga lain sempat percaya dengan isu tersebut. Karena aparat kepolisian setempat yang ditanya tentang isu itu juga membenarkan isu yang sengaja disebarluaskan melalui SMS oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Warga Dusun Telok Dalem lainnya, Saiful Anwar mengatakan juga menerima SMS yang menyatakan akan terjadi gempa disertai tsunami. Hal itu membuat dia bersama keluarganya terpaksa tidur di luar rumah.
"Saya bersama keluarga terpaksa tidur di 'berugak' (sejenis joglo), karena beredar isu akan terjadi gempa dahsyat disertai tsunami," tuturnya.
Isu gempa juga beredar di Kota Mataram. Salah seorang warga Ampenan yang kebetulan rumahnya di dekat pantai mengatakan tidak berani tidur di dalam rumah. Karena mendapat SMS mengenai isu akan terjadi gempa disertai tsunami.
Menanggapi isu tersebut, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB Heryadi Rachmat yang juga salah seorang ahli geologi mengimbau masyarakat untuk tidak cepat percaya dengan isu yang sengaja disebarluaskan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Ia mengatakan, masyarakat tidak perlu mempercayai isu yang menyatakan akan terjadi gempa disertai tsunami. Karena hingga kini belum ada satu negarapun yang mampu meramalkan gempa dan tsunami, termasuk negara maju yang memiliki peralatan canggih.
"NTB termasuk Pulau Lombok memang merupakan daerah jalur gempa, namun itu tidak bisa diramalkan kapan terjadi. Negara maju seperti Amerika Serikat yang memiliki peralatan canggih juga tidak bisa meramalkannya, karena itu masyarakat tidak perlu resah dengan isu yang tidak bertanggungjawab," imbuhnya.
Kendati demikian, Heryadi mengingatkan, agar masyarakat tetap waspada terutama yang bermukim di pesisir pantai untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Menurut catatan, pada Jumat 19 Agustus 1977 pernah terjadi gempa disertai tsunami yang menelan korban jiwa cukup banyak di Kecamatan Lunyuk, dan beberapa desa yang kini masuk wilayah Kabupaten Sumbawa Barat dan Teluk Awang, Kabupaten Lombok Timur.
Beberapa catatan peristiwa kejadian bencana alam beraspek geologi yang melanda wilayah NTB, antara lain gempa berkekuatan 8,2 Skala Richter (SR) yang melanda Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa 19 Agustus 1977 dan Teluk Awang, Lombok Timur yang menelan 107 orang tewas dan ribuan bangunan hancur.
Sementara pada 30 Mei 1979 terjadi gempa berkekuatan 6,5 SR yang mengakibatkan 23 orang meninggal dunia dan 79 luka dan ribuan bangunan rusak parah dan ringan. [*/jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !