INILAH.COM, Pariaman - Akibat jumlah pasien yang terus berdatangan pasca gempa 30 Oktober, RSUD Pariaman tidak sanggup menampung seluruh korban di ruang khusus yang disiapkan rumah sakit itu.
"Jumlah pasien korban gempa di RSUD Pariaman membludak," kata Walikota Pariaman Mukhlis Rahman di Pariaman, Selasa (6/10).
Walikota mengatakan, hal itu mengakibatkan ruangan khusus yang dipersiapkan oleh rumah sakit untuk merawat korban gempa tidak bisa lagi menampung seluruh korban.
Akibatnya, sebagian dari pasien gempa dirawat di pelataran bangsal karena ruangan yang ada tidak cukup untuk menampung pasien yang terlalu banyak. RSUD Pariaman sudah mempersiapkan bangsal I khusus untuk merawat korban gempa.
Walaupun tidak semua pasien korban gempa bisa ditangani di ruang khusus, Wali Kota memastikan semua pasien akan mendapat perawatan intensif dari tim medis yang ada. Meskipun sebagian dirawat di pelataran depan bangsal, kata Wali Kota, semua akan ditangani dengan serius.
"Meskipun tidak seluruhnya dirawat di dalam ruangan bangsal, namun tim medis tetap akan memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh pasien," katanya.
Mayoritas pasien yang saat ini masih dirawat intensif karena menjadi korban gempa adalah mereka yang lanjut usia. Kisaran usia mereka yang dirawat berusia 50 tahun hingga 95 tahun.
Rata-rata dari mereka mengeluhkan patah tulang dan lecet-lecet akibat tertimpa puing-puing bangunan rumah yang runtuh saat gempa melanda. Sebagian besar dari lansia tersebut mengaku tidak bisa lari untuk keluar dari rumah saat gempa mengguncang wilayah itu karena tubuh renta mereka membatasi gerak tubuh. [*/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !