INILAH.COM, Jakarta - Pengaruh gempa bumi di Sumatera Barat terhadap pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia tidak begitu besar.
"Porsi pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat hanya 1,7 persen dari total pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga kejadian ini meski berpengaruh, namun tidak begitu besar," kata Direktur Perencanaan Makro Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Prijambodo di Jakarta, Selasa (6/10).
Ia mengatakan, berdasarkan pengalaman gempa bumi di Sumatera Barat pada 2006, kawasan ini memiliki kemampuan yang cepat memulihkan perekonomian akibat bencana alam. Sebab kawasan Sumatera Barat dinilai memiliki potensi ekonomi yang masih cukup besar untuk terus tumbuh. "Daerahnya sendiri berpotensi tumbuh, penangan yang cepat maka dampak negatifnya dapat diperpendek," katanya.
Ia menjelaskan, berdasarkan data pada 2006 dimana terjadi gempa di kawasan ini, pada triwulan III 2006 setelah terjadi gempa, pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumbar anjlok menjadi -9,6 persen (YoY).
Namun pada kuartal IV 2006, pertumbuhan propinsi ini langsung positif 5,5 persen (YoY) setelah penanganan yang sigap dari pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan juga pemerintah daerah kabupaten dan kota.
Hal ini membuat pertumbuhan ekonomi Propinsi Sumbar masih positif 2,1 persen (YoY) meski lebih rendah dibanding 2005 yang mencapai 5,7 persen. Sedangkan pada 2007, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat langsung melejit 10,5 persen (YoY).
Ia menambahkan, rata-rata sejak 2003, kawasan ini selalu tumbuh di atas lima persen apabila tidak terjadi gempa. "Jadi kemampuan penanganan terhadap gempa yang lebih sigap dan cepat tentunya akan memperpendek dampak negatif gempa terhadap perekonomian secara umumnya, dan Sumbar secara khususnya," katanya. [*/cms]