INILAH.COM, Jakarta - Para teknokrat neolib sejak lama diprediksikan bakal menduduki kursi di kabinet SBY. Namun skandal Bank Century diperkirakan akan membuat SBY lebih hati-hati memilih pembantunya. Akankah SBY masih dikelilingi ekonom neolib?
"Jatah menteri ekonomi sedang diakses dan diburu," ungkap Umar S. Bakry, Direktur Lembaga Survei Nasional (LSN) di Jakarta. Mereka itulah para penunggang bebas yang berambisi mendompleng kemenangan SBY untuk duduk di kursi empuk, tambah Prof Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta sekaligus dikenal sebagai cendekiawan Muslim.
Sejauh ini, Boediono selaku wakil presiden diprediksi sulit membawa 'gerbong teknokrat ekonomi'-nya untuk menguasai kabinet pemerintahan. Pasalnya, skandal Bank Century diyakini akan mendorong Presiden SBY bersikap lebih cermat, waspada, dan hati-hati dalam memilih tim ekonomi di kabinetnya nanti.
Sebelum skandal Century mencuat, publik mengenal sejumlah teknokrat 'geng Boediono' digadang-gadang mengisi tim kabinet SBY nanti. Sumber di kalangan inner circle Boediono menyebutkan, mereka yang bakal mengisi pos strategis justru berasal dari 'gerbong' Boediono. Pos strategis tersebut di antaranya Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, dan Menteri ESDM.
Sejumlah nama disebut-sebut akan mengisi kursi kabinet tim ekonomi seperti Sri Mulyani, Marie Elka Pangestu, Anggito Abimanyu, Raden Pardede, M Ikhsan, A Tony Prasentiantono, Chatib Basri dan ekonom yang segaris dengan Boediono.
Menurut pengamat politik Arie Sudjito dari Fisipol UGM, tidak mustahil, orang-orang di lingkaran Boediono akan menjadi figur dalam tim ekonomi kabinet. Meski mungkin rakyat kecewa karena neolib dominan lagi, jelasnya.
Sementara pengamat politik Charta Politika Bima Arya Sugiarto mengungkapkan prediksinya soal kabinet SBY lima tahun mendatang. Bima mengelompokkan tiga tipe kabinet berdasar komposisinya.
"Yang pertama kabinet minimalis, kabinet hanya akan diisi lima partai. Demokrat 4 kursi, PPP 2 kursi, PKB 2 kursi, PAN 2 kursi, dan PKS 3 kursi, dan sisanya profesional," kata Bima.
Kedua, Bima menghitung masuknya Golkar dalam kabinet SBY. Golkar di bawah gerbong Ical diprediksinya akan mulus memesan tiket kabinet. "Kabinet medium, empat partai koalisi plus Golkar akan masuk. Golkar akan mendapat 3 kursi karena chemistry Ical dengan SBY tinggi," beber Bima.
Tipe ketiga didominasi kabinet parpol karena tidak dihitung adanya oposisi. Kesempatan profesional menjadi menteri mengecil. Kabinet oversize dimana Gerindra, PDIP, dan Golkar akan mendapat jatah menteri masing-masing. Kabinet ini akan banyak menteri dari parpol ketimbang profesional, ungkap Bima.
Untuk membangun rekonsiliasi politik nasional, jelas SBY tak membutuhkan oposisi untuk kontrol kinerjanya. Demi kepentingan jangka panjang, SBY berkepentingan mengajak Golkar, PDIP dan Gerindra untuk tidak menjadi oposisi.
Para analis kemudian meraba kemungkinan pengisi beberapa pos menteri. Semua kalangan diprediksi akan diakomodasi. Menteri negara non departemen sangat mungkin dikuasai parpol karena tak ada akses ke daerah.
Menko Polkam, Mendagri, dan Menhan bisa saja diisi militer, sedangkan sosok profesional akan mendapat jatah misalnya di jajaran menteri ekonomi. Saling berebut akses ke SBY akan meningkat di kalangan ekonom neolib geng Boediono itu. Publik mencermati sejauh mana preferensi SBY nantinya, timpal pengamat politik Umar S Bakry, yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Survei Nasional. [mdr]