INILAH.COM, Jakarta - Dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai jauh lebih kecil dibanding kontribusi cukai empat perusahaan rokok, meskipun BUMN sebagai aset terbesar bangsa.
Demikian disampaikan pengamat ekonomi Faisal Basri, dalam peluncuran bukunya yang berjudul 'Lanskap Ekonomi Indonesia', di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Rabu (7/10).
"Ini penyakit paling akut di Pertamina, untuk menghasilkan 1 barel biayanya sebesar US$ 36,1 sementara Chevron sebesar US$ 6,8. Hantunya Pertamina bukan Chevron," ujarnya.
Menurut Faisal ada tiga kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang harus dibebaskan agar BUMN tersebut menjadi lebih sehat. "BUMN disandera oleh tiga masalah berat yaitu adanya missed management dan kelemahan etos kerja, politisasi dan penjarahan, serta korupsi dan kelalaian," ujar Wakil Presiden terpilih RI Boediono saat membacakan sepenggal isi dalam buku yang baru diluncurkan Rabu (7/10) ini di Jakarta.[mre/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !