INILAH.COM, Manila - Banjir dan tanah longsor masih menyelimuti sebagian tempat di ibukota Filipina, Manila. Sejauh ini, bencana tersebut sudah menewaskan 184 jiwa.
Kantor berita Bernama, Minggu (11/10) melansir, tiga daerah di Pulau Luzon yang tertimpa bencana tersebut sebagian besar adalah wilayah produksi beras. Pejabat Departemen Pertanian setempat menasi kerugian beras dan jagung yang rusak akibat bencana ini mencapai 3,2 miliar peso.
Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, Sabtu kemarin, sudah mengerahkan pasukan untuk membersihkan jalan dari puing-puing dan lumpur di provinsi pegunungan utara yang terisolasi oleh tanah longsor dan banjir setelah seminggu hujan lebat.
"Saya telah memerintahkan tentara dan taruna di Akademi Militer Filipina di Baguio City untuk membantu dalam upaya penyelamatan dan bantuan," ujar Arroyo dalam sebuah pernyataan.
Jalan menuju Baguio City sejauh ini tetap sama sekali terputus akibat longsor yang dipicu topan kuat Parma. Longsor yang berupa batu dan tanah tersebut memblokir jalan-jalan di daerah tersebut.
Badai Parma menyerang Filipina Sabtu pekan lalu dan kemudian berputar di bagian utara Luzon sepanjang minggu. Sementara banjir dan longsor datang dua minggu setelah badai Ketsana yang menewaskan sedikitnya 337 orang dan memaksa setengah juta dari rumah mereka. [ton]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !