INILAH.COM, Jakarta - Berkat bundling dengan operator, image berbagai ponsel China langsung naik. Konsumen tak ragu, karena didukung operator. Tapi bagaimana kualitas maupun purna jualnya?
Produsen ponsel China, tahun ini mendapat momentum dengan gencarnya operator melakukan bundling. Fenomena itu dipicu langkah XL yang sukses membundel HP QWERTY Nexian yang mirip BlackBerry. Sejak saat itu, berbagai operator tidak segan bergandeng tangan dengan produsen ponsel QWERTY China.
Kondisi itu tak pelak memberikan keuntungan pada ponsel China. Presiden Direktur IMO Mobile Entertainment, Sarwo Wargono mengatakan pangsa pasarnya bisa melonjak dua kali lipat tahun depan menjadi 20%. Saat ini sekitar 10%. Kami optimistis pangsa pasar bisa dinaikkan hingga dua kali lipat dari sekarang," katanya di Jakarta, kemarin.
Ia mengatakan perkembangan ponsel China itu didorong oleh penjualan langsung di pasar. Selain itu program bundling atau penjualan bersama dengan operator telekomunikasi yang dilakukan dengan gencar diyakini akan berperan besar dalam penjualan. IMO baru saja melakukan bundling dengan operator Indosat. "Program bundling akan mampu meningkatkan volume penjualan IMO," ujarnya.
Bagi operator bundling handset juga merupakan langkah penting. GM Device Management Telkomsel, Heru Sukendro mengatakan pembeli paket bundling memiliki loyalitas dalam menggunakan layanan Telkomsel. Pemakai bundling bisa bertahan lebih dari enam bulan, katanya.
Sementara dari segi penjualan cukup tinggi. Heru mengungkapkan target awal penjualan handset bundling Telkomsel mencapai 50 ribu unit saat peluncuran. Seperti bundling handset Venera yang dirilis pada September, Telkomsel telah menjual hingga 15 ribu unit.
Handset budling yang paling laku, kata Heru di kisaran kurang dari Rp 1 juta. Namun begitu, Telkomsel juga memasarkan handset dengan harga Rp 1,3 juta. Sementara konsumen di daerah lebih memilih handset murah.
Lalu apakah operator tidak khawatir kualitas ponsel China akan merusak citranya? Heru mengatakan pihaknya tidak sembarangan menerima tawaran bundling ponsel China. Menurutnya ada masa ujicoba handset apakah bisa berfungsi 100% dengan jaringan Telkomsel. Selain itu ketersediaan service centre juga menjadi pertimbangan, katanya.
Sementara kepopuleran ponsel China tampaknya tak terbendung. Mengutip lembaga riset pasar JFK, Wargono menuturkan total penjualan seluruh jenis ponsel di Indonesia bisa mencapai sekitar satu juta unit per bulan. Sementara penjualan ponsel China terbukti digemari oleh masyarakat.
Tapi Wargono menilai, persaingan pada ponsel merek China sangat ketat karena menyasar pasar yang lebih besar. Permintaan signifikan terutama dari segmen bawah dengan harga di bawah kisaran Rp 1 juta dan segmen menengah .
Menurutnya, besarnya minat konsumen terhadap ponsel China sejalan cepatnya perubahan perilaku konsumen akibat berkembangnya komunitas sosial yang ditandai maraknya situs pertemanan seperti Facebook dan Twitter. Layanan ponsel yang tadinya didominasi penggunaan layanan suara dan SMS, kini mengarah pada komunikasi data yang mengandalkan GPRS, imbuhnya. [mdr]