Senin, 28 Mei 2012 | 19:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
PDIP Naikan Harga Tawar ke SBY
Headline
Burhanudin Muhtadi - inilah.com /Agus Priatna
Oleh: Vina Nurul Iklima
web - Kamis, 15 Oktober 2009 | 16:52 WIB
INILAH.COM, Jakarta - PDIP dinilai sengaja menciptakan konflik tarik-menarik antara pilihan oposisi atau bergabung dengan pemerintahan SBY. Tujuannya menaikan harga tawar untuk mendapatkan banyak kursi menteri.

"Statemen mega yang diucapkan Wasekjen PDIP Agnita Singadekane sebenarnya taktik PDIP untuk meningkatkan bargaining position. Harapannya agar SBY bisa menambah kursi menteri buat PDIP," kata pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanudin Muhtadi melalui pesan singkat kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (15/10).

Ia mengatakan, manuver PDIP terhadap SBY disinyalir sebagai ajang adu kekuatan banteng moncong putih dengan Partai Demokrat. Menurut Burhanudin, jika secara kualitas tidak bertambah, SBY akan memberikan dua pos kementerian yang strategis.

"Jika SBY tidak mengakomodasi maka PDIP akan memutuskan untuk jadi oposisi," ujarnya.

Ia meyakini, deal internal PDIP diputuskan ketika Rapat Pleno DPP yang dipimpin Megawati pasca Munas Golkar. "Akan dipastikan oposisi atau koalisi lima hari ke depan setelah SBY memastikan berapa jatah menteri buat PDIP," pungkasnya. [ikl/mut]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Gigih Nusantara
Jumat, 16 Oktober 2009 | 18:13 WIB
Bego kok Dibilang Hebat Mari gunakan logika yang gampang saja, dalam membaca berita soal hitung-menghitung soal pilihan menteri di atas. Dikatakan, bahwa PDIP takut berada di bawah bayang-bayang PD jika masuk ke kabinet. Namun dalam paragraf yang lain, dikemukakan, bahwa tanpa PDIP sebenarnya PD akan lebih beruntung, karena dengan kemampuannya tanpa PDIP, jika kabinet sukses, maka PD akan naik pamor. Dengan begitu, sebenarnya apa pun yang terjadi, akan tetap saja PDIP tak mungkin membesarkan bayang-bayangnya sendiri, kecuali satu hal. kecuali kali ini SBY gagal total. Namun berkaca pada apa yang sudah pernah ia lakukan sebelumnya, di mana recokan bahkan datang dari Wapres dan partainya Wapres, SBY tetap mampu memperoleh kepercayaan dari rakyat yang sebegitu besar. Artinya, SBY berhasil. Nah, konon pula pada periode ini, di mana hampir mutlak ia menguasai gelanggang, bukan? Maka kecil kemungkinan SBY gagal. Apa lagi justru inilah kesempatan terakhir membuktikan dirinya benar-benar hebat, atau biasa-biasa saja. Peluang keberhasilan SBY menjadi jauh lebih besar dibanding kemungkinan gagal. Jika PDIP berada di luar, maka ia akan sama sekali tak punya kesempatan untuk berbunyi. Makin kecillah partai sapi gemuk ini, dan PD justru akan menjadi sangat besar. Jika PDIP ikut dalam pemerintahan, dan pemerintahan SBY berhasil, setidaknya PDIP masih bisa mengklaim bahwa pihaknya ikut andil dalam keberhasilan pemerintah tersebut. Setidaknya untuk portofolio yang digawangi oleh menteri dari PDIP. Ikut mentereng, kan? Bisa dipamerkan pada saar kampanye 2014 nanti, kan? Meski bayang-bayang PD besar, masih ada kesempatan PDIP punya sesuatu, kan? Jadi di mana hebatnya Megawati? Atau aku curiga, jangan-jangan yang menyebut Mega hebat malah lebih bego, tak pandai bikin kalkulasi. Sama sekali tak ada kerugian apa pun di pihak SBY, entah PDIP menerima tawarannya, atau menolaknya. Bagi PD, ibarat keping mata uang, dua sisinya memihak padanya. Maka kalau masih berpura-pura mencoba menaikkan posidi tawarnya, PDIP itu punya kelebihan apa? Salamku. Gigih Nusantara
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.