INILAH.COM, Jakarta - Penggodokan kabinet sedang dilakukan SBY-Boediono. Beragam nama beredar, mulai dari calon parpol hingga profesional. Namun kabarnya calon menteri yang berpoligami bakal disikat.
Melalui beberapa orang dekatnya, SBY-Boediono dikabarkan sepakat untuk membangun kabinet yang berwibawa dan menjadi panutan rakyat. Kabarnya, ada kesepakatan tidak tertulis antara keduanya, bahwa calon menteri --salah satunya-- wajib beristri satu atau tidak melakukan poligami.
Kabarnya, baik SBY maupun Boediono merasa tidak nyaman dengan hadirnya beberapa nama calon menteri yang melakukan poligami. Berdasarkan pengalaman 5 tahun memerintah, isu tentang poligami sangat tidak menguntungkan.
Meski tidak ada undang-undang yang melarang pejabat melakukan poligami, tapi resistensi publik terhadap pejabat dan tokoh masyarakat yang melakukan poligami masih tinggi. Karena itu, kemungkinan calon menteri atau pejabat yang melakukan poligami akan dicoret dari daftar menteri, sangat besar.
Beberapa petinggi Partai Demokrat yang dikonfirmasi tentang masalah ini menolak berkomentar. Bahkan, mereka juga menolak kalau namanya disebut sebagai orang yang dikonfirmasi. "Jangan tulis Anda sudah menghubungi saya ya. Ini masalah sensitif. Anda tahu kan, poligami ini bisa mengubah konstalasi politik nasional," kata petinggi PD yang tak mau disebutkan namanya saat dikonfirmasi INILAH.COM, Jumat (16/10).
Bagi kalangan dekat, baik SBY atau Boediono memang dikenal konsisten sebagai penganut monogami. Selama ini, keluarga mereka jauh dari isu poligami.
Ada yang menyebutkan, meski secara kultural keduanya berada di wilayah kultur Mataraman, yang tidak mengharamkan poligami, tapi figur ayah dengan satu ibu sangat kuat terhadap eksistensi sosial SBY-Boediono. [ims/sss]