INILAH.COM, Jakarta Ponsel China tidak bisa dipandang sebelah mata. Ponsel China berhasil mempolulerkan ponsel QWERTY. Ponsel China juga sukses membundling produknya dengan operator besar.
General Manager LG Mobile Communications Indonesia Usun Pringgodigdo, mengakui vendor lokal lebih cepat menangkap fenomena ponsel QWERTY. Namun hal itu bukan berarti peluangnya telah tertutup, karena fenomenanya masih akan terus berkembang.
Kita memang kalah cepat dari vendor lokal. Tapi vendor lokal lebih dekat ke pasar sehingga cepat menyesuaikan produknya sesuai yang disukai konsumen, katanya di Jakarta, kemarin.
Ia mengungkapkan ponsel QWERTY terbatas karena mencakup segmen khusus. Namun karena populasi yang besar, maka vendor internasional ikut terjun ke dalamnya.
Fenomena QWERTY diperkirakan akan terus tumbuh pada tahun depan. Bahkan tahun berikutnya QWERTY kemungkinan akan masih disukai konsumen. QWERTY didorong oleh jejaring sosial yang tumbuh cepat. Tahun depan ada apa lagi yang baru di interrnet, akan mendorong adopsi, paparnya.
Menurut Usun, QWERTY menjadi fenomenal setelah dibundling dengan operator. Saat ini hampir semua operator telah membundling QWERTY, termasuk operator CDMA juga menawarkan ponsel serupa.
Hermansyah Harjono, Deputi GM Marketing Product 3 (Tri) mengatakan untuk membundling layanan dengan handset bukan perkara mudah. Hal itu disebabkan masing-masing pihak harus mendapat keuntungan.
Kami memilih vendor dengan itung-itungan yang lebih mudah dibandingkan dengan yang lain. Kami memilih yang tidak terlalu banyak menuntut dalam deal yang dibuat," katanya.
Ia mengatakan, 3 sudah melakukan pembicaraan dengan beberapa vendor. Namun pihaknya belum banyak melakukan kerjasama bundling, karena itung-itungannya kurang menguntungkan.
Operator lain sudah berlari di depan dalam menawarkan handset bundlingnya. XL, Indosat dan Telkomsel terus menambah jumlah handset QWERTY bundlingnya. Tapi yang berhasil menggandeng operator besar itu adalah ponsel lokal yang bahkan ada yang belum memiliki pengalaman terjun di pasar ponsel.
LG membundling handsetnya dengan operator 3 yang pelanggannya masih di bawah 10 juta. Usun membantah, kalah dua kali dari ponsel China, karena hanya bisa menggandeng operator pemain baru.
Untuk membedakan dengan ponsel lain, LG memberikan benefit pada konsumen. LG memilih operator yang benar-benar memberikan value di mana kartu yang dikeluarkan 3 optimal untuk menjalankan fitur-fitur di handset LG, kilahnya.
LG tetap yakin ponselnya akan disambut konsumen, meskipun melakukan bundling dengan operator baru. LG menargetkan bisa menjual hingga 50 ribu unit ponsel QWERTY pada tahap awal. Jumlah itu tidak jauh berbeda dengan target Telkomsel jika membundling ponsel China.
Ponsel LG dijual Rp 1,499 juta, atau lebih mahal dari ponsel China yang dikisaran Rp 1 juta. Lalu bagaimana LG bisa yakin dengan harganya? Usun mengatakan harga Rp 1,499 sebagai kejutaan. Konsumen mendapatkan berbagai kelengkapan. Kami ingin lebih banyak orang dapat menggunakan handset kami, timpal Usun. [mdr]