INILAH.COM, Jakarta - Kontroversi pengangkatan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II, terus mendayu. Kontroversi ini berbau politis.
Tak terduga, nama Endang Rahayu Sedyaningsih disebut sebagai Menteri Kesehatan terpilih dalam Kabinet Indonesia Bersatu II, menyingkirkan nama Nila Djuwita Moeloek. Sumber INILAH.COM menyebutkan, konon Nila tak terpilih karena suaminya Prof Farid A Moeloek menjadi Ketua Gerakan Masyarakat Anti-perokok dan ada lobi-lobi pengusaha rokok ke Cikeas untuk menggagalkan Nilai Moeloek. Tapi tudingan ini ditepis kalangan istana.
Isu kontroversial ini menjadi politis karena belum ada keterbukaan dari Istana, mengapa Nilai Moeloek gagal jadi menteri kesehatan setelah mengikuti audisi di Cikeas.
Kembali ke Endang Rahayu Setyaningsih, dokter ini merupakan staf Departemen Kesehatan.
Menteri Kesehatan sebelumnya, Siti Fadilah Supari, menyebut Endang sebagai staf Departemen Kesehatan yang dekat dengan Namru (The US Naval Medical Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut Amerika Serikat.
Namun Endang membantah tuduhan Siti Fadilah Supari yang mengatakan bahwa dia menjual specimen virus flu burung ke luar negeri. Sebelumnya, Siti Fadilah Supari mengatakan Endang pernah membawa virus ke luar negeri tanpa seizin dia.
"Apakah saya menjual specimen? Tidak benar. Saya tidak menjual specimen," kata Endang di rumahnya di Jalan Pendidikan Raya III, Blok JJ 55 Kompleks IKIP Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (22/10).
Endang juga membantah pernah meminta maaf kepada Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari yang sebelumnya jadi atasannya di Departemen Kesehatan. "Tidak benar itu," katanya.
Endang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1979). Setelah lulus strata 1 di FKUI, Endang pun meneruskan gelar master dengan spesialisasi Kesehatan Publik. Endang pun lulus dengan gelar Master of Public Health, pada Juni 1992 dari Harvard School of Public Health, Boston, AS.
Di tempat kuliahnya, Endang melanjutkan studi. Pada Maret 1997, Endang pun mendapat gelar Doctor of Public Health, dari tempat yang sama, Harvard School of Public Health. Endang dipercaya bertugas di Dinas Kesehatan Provinsi DKI pada 1983-1997. Tidak hanya di level lokal dan Tanah Air, karir Endang juga terbilang gemilang di kancah dunia.
Di Badan Kesehatan Dunia (WHO), Endang memegang peran penting. Dia menjabat penasihat teknis pada Departemen Penyebaran Penyakit dan Respons di Geneva, Swiss, 1997-2006.
Menurut Endang, jabatan barunya ini merupakan kejutan bagi dia dan keluarganya. Karena itu, Endang harus amanah dalam menjalankan tugas baru. Jangan sampai dia berbuat sesuatu yang memunculkan kontroversi baru.
Hingga kini belum ada konfirmasi resmi mengapa SBY mengganti Nila yang sudah mengikuti audisi ke Cikeas, dengan Kepala Litbang Depkes setara pejabat Eselon II itu. [Bersambung/mor]