INILAH.COM, Jakarta - Ada gebrakan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh. Reformasi birokrasi bakal diterapkan. Sementara pengembangan energi alternatif maupun cost recovery menjadi PR utama.
Reformasi birokrasi di Departemen ESDM itu, menurut Darwin, seperti halnya reformasi di Departemen Keuangan dan Kejaksaan. "Tapi reformasi harus dilihat secara bijaksana demi kebaikan dan tidak untuk menimbulkan rasa tidak nyaman. Itu untuk kebaikan bersama," ujar Darwin, kemarin.
Pada hari pertama menjalani jabatannya sebagai Menteri ESDM, Darwin sudah mengumpulkan para pejabat eselon I. Seperti Dirjen Migas Evita Herawati Legowo, Dirjen Minerbapabum Bambang Setiawan, Kepala BPH Migas Tubagus Haryono, dan Kepala BP Migas R Priyono.
Darwin Saleh dalam rapim pertamanya sangat fokus pada pengembangan geothermal (panas bumi) di tanah air sebagai alternatif energi. "Kita ingin tingkatkan pengembangan panas bumi, supaya pembangkit listrik tidak hanya bergantung pada minyak tetapi juga panas bumi," katanya.
Juga menyangkut penyusunan perangkat peraturan untuk pengembangan gas metana batubara atau coal bed methane CBM, sehingga dapat menghasilkan energi sebelum 2011. Langkah lain adalah melakukan revisi dan pemutakhiran rencana induk energi mixed.
Selain itu menyiapkan rencana strategis penyediaan pasokan listrik di 2015-2025 dan rencana strategis induk petrokimia. "Paling lambat rencana strategis tersebut bisa selesai sebelum Maret 2010. Rencana untuk energi mixed juga harus selesai Maret 2010," tandasnya.
Namun masih banyak PR yang perlu diselesaikan. Salah satunya terkait pencapaian rencana investasi sektor ESDM pada 2014 yang mencapai US$ 34,548 miliar. Namun, ada masalah dengan cost recovery dan mahalnya ongkos produksi minyak di sini.
Ekonom UI Faisal Basri telah mengingatkan bahwa biaya energi belum efisien. Biaya produksi minyak di BUMN itu lebih mahal ketimbang di Chevron. Biaya produksi 1 barrel minyak di Pertamina sebesar US$36,1 sedangkan Chevron hanya US$ 6,8 per barrel. Jelas, begitu mahalnya biaya produksi minyak di Pertamina karena korupsi dan rente ekonomi,tutur Faisal.
Pada konteks cost recovery, justru ada kekhawatiran bahwa keuntungan bagi Indonesia jadi mengecil karena kemungkinan inefisiensi. Itu masalah lama yang kini harus diatasi," kata Pri Agung Rakhmanto pakar perminyakan dan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.
Kondisi ini merupakan rangkaian tantangan bagi Menteri ESDM baru. Agar target dan fokus rencananya tak meleset, kata Dr Kurtubi, seorang pakar perminyakan.
Sektor Migas masih akan memberikan kontribusi besar dalam investasi di Indonesia. Investasi tersebut terdiri dari investasi di sektor migas sebesar US$ 19,19 miliar, ketenagalistrikan sekitar US$7,89 miliar dan sektor pertambangan umum sebesar US$7,468 miliar.
Untuk produksi minyak mentah dan kondensat pada 2014 diproyeksikan mencapai 1,01 juta barel per hari atau naik dari target tahun ini yang mencapai 960.000 barel per hari.
Sementara untuk produksi gas sebesar pada 2014 sekitar 1,633 juta bph dan batubara sekitar 309 ribu ton.
Secara rinci, target produksi minyak selama kurun waktu 2010 hingga 2014 berturut-turut 965.000, 970.000, 990.000, 1 juta, dan 1,01 juta barel per hari. Produksi gas bumi periode 2010-2014 adalah 1,593 juta, 1,592 juta, 1,594 juta, 1,544 juta, dan 1,633 juta barel setara minyak per hari. [mdr]