INILAH.COM, Jakarta - Partai Hanura tetap konsisten tak ikut kereta koalisi SBY di kabinet maupun di parlemen. Karena memang dari awal tidak ada niat untuk berdekatan.
"Dari awal kami tak pernah membayangkan masuk kabinet SBY, nawaitu saja tidak. Kami bukan banci, tapi kami konkret. Sejak awal statemen kami sama, jelas, dan konsisten!" kata Ketua DPP Hanura Abdulah Fauzi saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Sabtu (24/10).
Anggota Fraksi Hanura di DPR mengatakan, partai pimpinan Wiranto itu justru menyerukan pernyataan keras soal langkah-langkah politik yang ditempuh SBY. Jika semua partai bergabung dengan pemerintah, termasuk PDIP yang sudah sejak dulu konsisten jadi oposan, sistem demokrasi di negara kita akan hancur.
"Jangan terjadi obsolute power, bukan cuma otoriter. Posisi Hanura tetap all cleared, kritis dan tepat pada argumen," tuturnya.
Terkait Presiden SBY bisa saja merombak (reshuffle) KIB jilid II, dan ada peluang Hanura dipilih menteri, ia tak mau berandai-andai. Hanura tak akan ciut di parlemen meski dengan kekuatan sendiri, beroposisi.
Mengenai soal program kerja 100 hari pesiden dan kabinet bagaimana? "Kan program-programnya belum jelas, jadi kita mau mengkritisi, sekarang programnya juga belum jelas apa," pungkas Abdul. [ikl/jib]