INILAH.COM, Jakarta Saham PT Adaro Energy (ADRO) menjadi salah satu fokus pasar. Kombinasi sentimen positif eksternal dan domestik memacu kenaikan 10,96% dalam sepekan, menembus Rp1.600. Lihat saja di hari pertama perdagangan, Senin (19/10).
ADRO ditutup melonjak Rp70 ke level Rp1.530. Minat investor atas ADRO mulai meningkat sejak pemerintah mengumumkan rencananya menurunkan royalti batubara berkalori rendah. Sentimen ini bahkan sukses mengangkat ADRO 4,3% sepekan sebelumnya.
Seperti diketahui, royalti dana hasil produksi batubara (DHPB) untuk batubara berkalori rendah (4.600-5.500 kkal/ton) akan turun dari 13,5% menjadi 9%. Sedangkan royalty batubara berkalori tinggi tidak berubah. Pelaku pasar menaruh harapan terhadap ADRO, karena merupakan perusahaan tambang terbesar di dunia untuk batubara berkalori rendah.
Sementara itu, penambahan obligasi senilai US$800 juta dengan bunga 7,625%, yang akan tercatat di bursa Singapura, juga merupakan sentimen positif yang mendongkrak ADRO. Apalagi Moodys Investor Service memberi peringkat Ba1 untuk obligasinya yang bertenor 10 tahun dengan outlook stabil.
Permintaan obligasi yang dijamin penuh ADRO ini pun melesat mencapai US$5,5 miliar atau 11 kali lebih besar dari rencana semula US$500 juta. Pengamat pasar modal Irwan Ibrahim mengatakan, dengan penerbitan obligasi ini, ekspektasi pasar untuk tahun pendapatan 2010/2011 akan membaik.
Hal ini didukung meningkatnya volume produksi dan membaiknya harga minyak serta harga batubara. Untuk jangka panjang, Saya pikir ADRO masih akan hold dengan target 2.200 hingga Desember 2009, kata Irwan.
ADRO yang memiliki kinerja solid sejak awal tahun ini, diperkirakan akan terus membaik ke depannya. Per semester pertama 2009 kemarin, ADRO membukukan laba bersih naik hampir 95 kali lipat menjadi Rp 1,145 triliun. Bahkan aset ADRO melesat 114% jadi Rp 36,587 triliun dan kas naik 212% menjadi Rp 3,587 triliun.
Saham ADRO cenderung bergerak naik, kendati sempat terkoreksi beberapa kali akibat
profit taking investor. Analis Recapital Securities, Poltak Hotradero menilai, sentimen positif berasal dari rekomendasi beli yang diberikan Goldman Sach.
Riset sekuritas asing tersebut menjadikan ADRO emiten pilihan mereka, terkait valuasi perseroan yang menarik dan pertumbuhan pendapatan ketika berakhirnya kontrak batubara di harga rendah. Kami rekomendasikan buy dengan target harga setahun ke depan mencapai Rp2.800, katanya.
Secara historis, harga batubara thermal dinilai sangat erat terkait dengan harga minyak mentah, dimana 10 tahun terakhir terkorelasi 88%. Demikian juga harga stok batubara yang terkorelasi sebesar 87% sejak 2003.
Goldman Sach optimistis terhadap perkembangan harga minyak mentah, bahkan September lalu telah menaikkan prediksi harga minyak 2010 dan 2011 menjadi US$90 per barel dan US$110 per barel, seiring ekspektasi meningkatnya permintaan.
Sejak awal pekan, harga minyak mentah terus melesat hingga sempat tembus level tertingginya setahun terakhir di US$82 per barel. Dengan peningkatan 3,3% sepekan ini, berarti harga minyak telah membukukan kenaikan dalam 4 pekan berturut-turut. Adapun naiknya harga sumber energi ini dipicu keyakinan bahwa proses pemulihan ekonomi akan berlangsung lancar.
Dengan ekspektasi peningkatan harga minyak ini, harga batubara pada 2009-2011 pun diperkirakan meningkat. Peningkatan besar akan terjadi pada 2011, mencerminkan 30% kapasitas ekspor saat ini. Di sisi lain, kami memprediksikan produser batubara Indonesia bisa menaikkan kapasitasnya sebesar 40% hingga akhir 2010, paparnya.
Estimasi supply demand batubara thermal secara global mengindikasikan bahwa kelebihan pasokan pada 2009, akan merosot pada 2010, seiring besarnya permintaan. Meskipun tidak akan terjadi defisit. Meskipun pasokan merosot, tidak terlihat ada pengurangan besar pada capex batubara thermal.
Bahkan, beberapa proyek sudah hampir rampung. Terminal pelabuhan batubara ketiga Australia (NCIG) diprediksikan mengapalkan batubara pertama mereka pada awal 2010.
Transaksi saham ADRO pekan ini memberi kontribusi besar pada pergerakan bursa. Pada Rabu (21/10), ADRO menyumbang 7,5% kenaikan indeks dengan nilai transaksi sebesar Rp278 miliar. Ketika itu ADRO ditutup naik Rp50 (3,3%) menjadi Rp1.560.
Hal ini terjadi lagi pada Jumat (23/10). Di hari terakhir perdagangan, nilai transaksi ADRO tercatat sebesar Rp351 miliar, atau 8,8% total transaksi. Adapun ADRO ditutup naik Rp 100 (6,57%) ke level Rp 1.620. [mdr]