INILAH.COM, Madiun - Pesanan batik tulis maupun batik cetak di Madiun, Jawa Timur, dalam sebulan terakhir mengalami kenaikan cukup signifikan.
"Tren peningkatan mulai dirasakan sejak pengakuan batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada awal Oktober lalu. Sejak itu, pemesanan batik di tempat saya bisa naik hingga hampir tiga kali lipat," ujar perajin batik di Jalan Tuntang, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman, Siti Qomariah (60), Minggu.
Menurut dia, jika sebelumnya ia hanya membuat batik secara total untuk jenis batik tulis dan cetak sebanyak 125 potong. Kini meningkat hingga mencapai 400 potong kain batik atau sepanjang 1.000 meter dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
"Pokoknya sejak ada pengakuan dunia, pesanan terus mengalir baik dari kalangan umum maupun instansi pemerintahan. Demikian juga termasuk pesanan untuk kebutuhan seragam sekolah terus meningkat dibandingkan dengan beberapa bulan lalu," katanya.
Meski pesanan naik, namun Siti mengaku tidak menaikkan harga jual batiknya. Selama ini untuk batik cetak ia tetap mematok harga rata-rata Rp20.000-Rp35.000. Sedangkan untuk batik tulis, satu kain batik ia beri harga antara Rp75.000 hingga Rp650.000.
Harga-harga yang ia patok ini bergantung dari jenis kain dan tingkat kesulitan membuat motif batik tulis tersebut.
Siti menjelaskan, batik andalan khas Madiun adalah Batik Retno Kumolo. Motif yang menonjol dari batik Retno Kumolo adalah tombak milik Retno Dumilah, Keris Tundung Madiun milik Retno Dumilah, bunga melati, matahari, dan selendang.
"Retno Dumilah adalah tokoh seorang putri sekaligus ksatria yang berjuang mempertahankan wilayah Purbaya atau Kadipaten Madiun dari serangan Kerajaan Mataram pada zaman pemerintahan Kerajaan Pajang," jelasnya.
Batik khas Madiun pertama kali dicetuskan pada 2002. Dalam kurun waktu selama enam tahun, keberadaan batik di Kota Madiun tidak menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Pemasarannya juga masih sebatas dari mulut ke mulut.
"Biasanya yang datang hanya orang-orang yang ingin memesan batik saja. Itupun, mereka ketahui dari mulut ke mulut tentang keberadaan saya yang masih terus membatik," ujar Siti.
Namun, setelah ada pengakuan UNESCO, rumahnya mulai ramai dikunjungi orang untuk belajar tentang batik, ataupun hanya ingin melihat-lihat batik saja.
"Kebanyakan yang datang adalah anak-anak sekolah, baik dari tingkat SD ataupun SMP di wilayah Madiun, yang ingin belajar tentang batik," terangnya.
Pihaknya berharap, setelah ada penetapan batik dari dunia internasional, pemerintah baik pusat hingga daerah mulai memperhatikan nasib para pembatik di wilayahnya masing-masing.
Siti yakin, setiap wilayah di Indonesia pasti memiliki ciri khas pakaian tersendiri termasuk motif pada kain batik.
Selain itu, pihaknya juga mengimbau kepada Pemerintah Kota Madiun untuk membantu proses mematenkan corak batik khas Kota Madiun guna menghindari klaim dari pihak lain. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !