Jumat, 25 Mei 2012 | 22:36 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Efek Sutanto Jadi Kepala BIN
TNI Bergejolak?
Headline
Sutanto - inilah.com /Dokumen
Oleh: IM Soemarsono
web - Selasa, 27 Oktober 2009 | 10:55 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Sejumlah perwira tinggi di tiga angkatan resah. Penempatan mantan Kepala Polisi RI sebagai Kepala Badan Intelijen Nasional membuat kekuatan militer merasa digembosi.

Beberapa perwira tinggi (pati) di tiga unsur angkatan (darat, laut, udara) menyampaikan uneg-uneg kepada INILAH.COM, Senin (25/10) malam.

Intinya pembicaraan adalah pengangkatan mantan Kapolri Jenderal (Pol) Sutanto sebagai Kepala BIN membuat konsolidasi di tubuh militer menjadi bergejolak.

"Intelijen adalah institusi yang melekat pada militer. Kalau kepalanya dijabat dari kalangan nonmiliter, ini akan membuat sistem informasi intelijen dan sejumlah kebijakan di penggalangan intelijen di lapangan menjadi lemah," kata seorang pati yang tidak bersedia disebut namanya.

Sepanjang sejarah nasional, intelijen adalah pengendali dan pemberi informasi utama kepada Presiden RI. Tugasnya sangat vital karena informasi itu akan menjadi landasan bagi Presiden untuk mengambil keputusan.

"Nah, kalau orang nomor satu di intelijen itu nonmiliter, maka deteksi dan analisis terhadap pergolakan di tingkat lapangan menjadi kurang tajam. Selama ini yang memiliki pendidikan dan kapasitas melakukan deteksi konflik atau membaca potensi bahaya keamanan adalah militer," katanya.
Karena itu, sejak intelijen dibentuk di Indonesia, orang yang memimpin selalu berasal dari kalangan militer.
Pada zaman Bung Karno, kepala intelijen dipegang sipil. Hasilnya intelijen malah dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis, bukan untuk kepentingan keamanan dan pertahanan nasional.
"Intelijen bertanggung jawab langsung kepada presiden. Intelijen memiliki tipikal sangat berbeda dengan institusi keamanan lain. Sistem kerja utamanya adalah silence operation. Target kerja intelijen adalah meredam kejadian sebelum menjadi bahaya bagi keamanan nasional," katanya.
Selain itu, doktrin militer dan nonmiliter berbeda. "Ini akan terkait dengan setiap operasi intelijen. Kalau bukan dari kalangan militer, target dan kepentingannya akan berbeda. Sebab doktrin militer itu jelas: keamanan dan keselamatan negara di atas segalanya," kata perwira itu.
Pengangkatan Jenderal (purn) Polisi Sutanto oleh Presiden SBY sebagai Kepala BIN, bagi para perwira tinggi di tiga angkatan, mulai menimbulkan keresahan. Meski loyalitas dan kontribusi Jenderal (pur) Sutanto kepada Presiden SBY dinilai tinggi, tapi penunjukan Sutanto sebagai Kepala BIN bisa dibaca oleh kalangan perwira militer sebagai ketidakpercayaan Presiden SBY kepada institusi militer Indonesia.
Sebuah sumber menyebutkan, sebelum Jenderal (pur) Sutanto ditunjuk, sempat muncul nama Letjen Sudrajat, mantan Direktur Jenderal Strategi Pertahanan Dephan untuk menduduki posisi Kepala BIN. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
4 Komentar
hmsabar
Rabu, 28 Oktober 2009 | 09:30 WIB
SEJAK AWAL SAYA MEMPRIDIKSI KALAU MENHAN DAN BIN DIKENDALIKAN OLEH POLISI ATAU MANTAN POLISI SAMA SAJA MENCIPTAKAN BOM WAKTU. Mana mungkin TNI/Militer sebagai kekuatan NEGARA mau di kendalikan oleh POLISI yang secara diam-diam sejak REFORMASI seolah berebut TUA. AKAN LEBIH BIJAK KALAU SIPIL MURNI YANG DITUNJUK MENHAN DAN KEPALA BIN. TAPI YANG PAS ITU MEMANG MILITER, sebab salah satu ukuran satu negara itu kuat adalah karena kekuatan MILITERNYA. Lihat saja zaman ORBA semua negara termasuk AMIRIKA Segan sama INDONESIA. Tapi, sejak Reformasi negara kecil tetangga kita saja seolah mau MENJAJAH. Ini semua karena kalangan elit kita mengajak rakyat menghujat MILITER kita sehingga kewibawaan NEGARA KITA RUNTUH RENUNGKANLAH WAHAI UMAT INDONESIA. DAN INI TANGGUNGJAWAB YANG MENAMAKAN TOKOH REFORMASI. kalo saya jadi petinggi TNI protes saja dengan aksi damai.
Arsyad
Rabu, 28 Oktober 2009 | 06:25 WIB
Istilah TNI Bergejolak rasanya terlalu provokatif. Semua TNI juga tau bahwa ada intelijen militer dan ada inteligen negara yang lebih berorientasi sipil. Bahkan orang sipil murni pun layak jadi Kepala BIN. Kalau intelijen militer memang seharusnya dipimpin oleh seorang militer. Tapi kalau BIN tidak harus militer.
BM Baratullah
Selasa, 27 Oktober 2009 | 16:02 WIB
bg sy Intelejen ditingkat dalam negeri siapa saja boleh (nonmeliter),nah tinggal dikalangan meliter yg harus mampu menjadi intelejen luar negeri.agar info dr luar yg mengancam negara lbh diketahui...CIA aja bs menjadi intelejen di luar negara-nya,knp meliter kita tidak bisa!!!
Santos
Selasa, 27 Oktober 2009 | 12:05 WIB
Barangkali salah satunya gara-gara kasus Munir ya...BIN kompak benar menyelamatkan pembunuh munir.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.