Dinas rahasia Indonesia, tertatih dari awal. Pertama dibentuk, anggotanya 40 orang. Latihannya seminggu. Targetnya, menjadi prajurit bayangan dalam perang adu pintar!
Bung Karno dan Bung Hatta, yang setelah proklamasi 17 Agustus 1945 langsung diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden, belum banyak berpikir untuk membangun sebuah dinas rahasia atau badan intelijen.
Jadi, jangan kaget, jika pembentukan badan intelijen untuk negara baru, bernama Indonesia, justru atas inisiatif dua perwira Jepang. Dua perwira ini tak mau menyerah pada sekutu.
Adalah Zulkifli Lubis, anak muda kelahiran Aceh, yang pada usia 18 tahun sudah menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air), sebuah pasukan cadangan para-militer bentukan Jepang.
Lubis digambarkan sebagai seorang anak muda yang lugu, berprilaku kewanita-wanitaan, bersuara lembut dan berkulit mulus. Ini adalah kamuflase paling canggih untuk seorang agen rahasia.
Pada tahun 1943, Lubis menjadi satu-satunya orang Indonesia yang berkesempatan mendapat pelatihan intelijen, di sekolah intelijen militer Nakano milik Jepang.
Dari sekolah inilah Jepang menghasilkan ribuan intelijen yang membuat negara itu memenangkan banyak pertempuran di Asia Raya. Lubis menjadi murid terpandai di situ. Sampai kemudian, sekutu mengalahkan Jepang dan Indonesia merdeka.
Lubis, atas saran dua perwira Jepang mentornya, akhirnya membentuk badan intelijen untuk negara yang baru lahir, Indonesia.
Dinas ini tidak langsung terbentuk. Melalui beberapa lobi, Lubis bisa meyakinkan Bung Karno tentang pentingnya intelijen bagi sebuah negara. Akhirnya, dibentuklah Badan Istimewa, dengan anggota pertama sebanyak 40 orang.
Lubis memberikan pelatihan dibantu perwira Jepang. Waktunya hanya seminggu. Doktrin utamanya: menjadikan intelijen sebagai prajurit bayangan dalam pertempuran adu pintar.
Begitulah. Ke-empat puluh orang itu kemudian menyebar. Mereka menggalang semua dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.
Mulai dari pengadaan logistik, perampasan senjata dan amunisi, penggalangan kekuatan para-militer berbasis kekuatan rakyat.
Pada bulan Mei 1946, eskalasi pertempuran rakyat Indonesia dengan sekutu mulai tinggi. Bung Karno akhirnya menjadikan Badan Istimewa sebagai dinas rahasia. Namanya berubah menjadi Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI).
Tugasnya bertambah. Yaitu, melakukan operasi kontra-intelijen (counter-intelligence) dan persiapan lapangan (field-preparation).
Lubis memang dikenal mempunyai talenta intelijen yang luar biasa. Dia mulai membangun sel-sel dimana-mana.
Hasilnya, beberapa pertempuran melawan sekutu berhasil dimenangkan pejuang Indonesia melalui cara sabotase dan perang psikhologis.
Operasi intelijen BRANI juga berhasil membongkar sindikat perdagangan gelap candu milik Belanda. Dari sinilah dana intelijen digalang, dan akhirnya bisa bekerja membangun sel-sel perlawanan rakyat.
Tahun 1947, terjadi friksi di Departemen Pertahanan, saat Menteri Pertahanan dijabat oleh Amir Syarifuddin, seorang aktivis kemerdekaan berhaluan kiri. BRANI kemudian dilebur menjadi lembaga di bawah kendali Dephan.
Meski, secara pribadi, Lubis sebagai Kepala BRANI, bertanggung jawab langsung pada Bung Karno, tetap BRANI secara organisasi di bawah kendali Menhan.
Nama BRANI diubah menjadi Divisi Pertahanan B. Diangkatlah seorang mantan komisaris polisi untuk mengepalai badan ini. Hasilnya, operasi kontra-intelijen yang sudah dibangun BRANI, berantakan. [Bersambung/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !