Senin, 28 Mei 2012 | 18:28 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Rapuhnya Intelijen Indonesia (2)
Intel Jadi Mesin Politik
Headline
Istimewa
Oleh: IM Sumarsono
web - Selasa, 27 Oktober 2009 | 19:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Keterlibatan Amir Syarifuddin dalam pemberontakan PKI Madiun membuat kerja badan intelijen berantakan. Kepentingan politik lebih menonjol daripada kepentingan negara.

Zulkifli Lubis pun terlibat dalam konflik pribadi dengan beberapa petinggi Angkatan Perang Indonesia. Salah satunya adalah Mayjen AH Nasution. Saat itu, Lubis masih berpangkat Kolonel.

Setelah pemberontakan PKI Madiun berhasil ditumpas, badan itu akhirnya dimasukkan ke dalam Departemen Pertahanan dengan kedudukan diturunkan satu tingkat. Namanya: Badan Informasi Staf Angkatan Perang (BISAP).

Pada 1952, Menteri Pertahanan dijabat oleh Sultan Hamengkubuwono IX yang berpandangan politik lebih netral. Saat itulah BISAP mendapat perhatian.

Saat itu Sultan mendapat tawaran dari Duta Besar AS Merle Cochran untuk melatih putra-putra terbaik Indonesia dalam sebuah pelatihan terbaik intelijen dunia: CIA.

Perang dingin membuat CIA rela mengeluarkan dana besar bagi pelatihan intelijen untuk prajurit terbaik Indonesia. Dan, atas kesepakatan Bung Hatta dan Sultan, dikirimlah kontingen pertama intelijen Indonesia, sebanyak 50 orang untuk mengikuti pelatihan. Mereka dipimpin oleh Sumitro Kolopaking, bekas bupati di salah satu kabupaten di Jawa Tengah.

Tempat pelatihan itu adalah pangkalan militer AS untuk kawasan Asia-Pasifik. Namanya Pulau Saipan. Sebuah pulau tersembunyi di Kepulauan Mariana, sekitar 82 kilometer dari Manila.

Inilah awal intelijen modern Indonesia dibangun. Dengan dana besar dan teknologi maju, kontingen pertama Indonesia menjadi agen-agen rahasia yang handal.

Pada 1956, Sultan tak lagi menjabat sebagai Menteri Pertahanan. Oleh Bung Karno, BISAP diubah menjadi Badan Koordinasi Intelijen (BKI), tetapi kewenangannya tetap berada di bawah Dephan.

Persaingan politik Bung Karno dan parlemen memanas. Pada 1958, BKI diubah menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI) yang akhirnya memungkinkan orang sipil mengepalai badan itu.
Dia adalah Dr Soebandrio, seorang tokoh komunis yang saat itu juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Di tangan Soebandrio, BPI berubah menjadi mesin politik yang bergerak untuk kemenangan kelompok kiri.
Soebandrio yang disebut oleh lawan politiknya sebagai Durno, menjadikan BPI sebagai dinas rahasia partikelir.
Sejumlah agenda politik Bung Karno digarap BPI melalui gerakan kontra-intelijen yang menghabiskan banyak biaya dan jiwa. Di antara operasi yang dilakukan BPI adalah konfrontasi dengan Malaysia dan perang opini merebut Irian Barat.
Sampai akhirnya PKI blunder. Terjadilah peristiwa Gerakan 30 September, yang menghancurkan seluruh bangunan organisasi kiri itu, termasuk: BPI dan Soebandrio. [Bersambung/mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.