INILAH.COM , Jakarta - Kekuatan intelijen terkonsolidasi saat Letjen Soeharto mengambil alih komando militer pasca G-30S PKI. Di sinilah cengkeraman politik Orde Baru dimulai.
Letjen Soeharto punya selera tinggi soal intelijen. Dia dikenal sebagai kolaborator seni intelijen modern dan Jawa. Dia menggabungkan peralatan modern dengan ancaman, gertakan, negosiasi, dan saling mempengaruhi.
Untuk melawan Gerakan G-30S/PKI, Letjen Soeharto membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Komandannya dia sendiri.
Dalam waktu tiga hari setelah kudeta PKI yang gagal, Letjen Soeharto menggerakkan seluruh kekuatan bersenjata untuk melumpuhkan kekuatan PKI. Juga untuk mengkonsolidasikan kekuatan membangun rezim baru: Orde Baru.
Letjen Soeharto melakukan pergantian kepemimpinan nasional melalui (salah satunya) kekuatan intelijen. Dengan selera intelijennya yang tinggi pula, Soeharto membentuk Satuan Tugas Intelijen (Satsus Intel). Lembaga ini menjadi investigator di dalam organisasi Kopkamtib. Dari situlah Soeharto memetakan kekuatan kawan dan lawan.
Tidak itu saja. Pada Agustus 1966, Soeharto membentuk Komando intelijen Negara (KIN). Lembaga ini menjadi pemantau utama keamanan nasional dan internasional, termasuk masalah politik, ekonomi dan sosial.
Lima bulan setelah kudeta PKI yang gagal, BPI dibubarkan. Orang-orangnya dibersihkan. Yang loyal, digabung ke KIN.
Sebagai organisasi penting intelijen, KIN berkantor di sebuah gedung sederhana di Tebet, Jakarta. Soeharto memasukkan orang-orangnya ke dalam lembaga itu. Brigadir Jenderal Yoga Sugama, yang lama menjadi perwira intelijen Soeharto saat menjabat sebagai Panglima Kodam di Jawa Tengah, diangkat sebagai Kepala KIN. Letkol Ali Moertopo, dari Jawa Tengah, yang menjadi perwira intelijen saat Soeharto menjabat sebagai Panglima Operasi Mandala, juga diangkat dalam satu unit intelijen baru yang bernama Operasi Khusus (Opsus).
Di dalam struktur KIN, Letkol Ali Moertopo menjabat sebagai Wakil Kepala. Tugasnya melakukan pengawasan keamanan luar negeri. Di situlah Letkol Ali Moertopo bersinar dengan aksi-aksi kontra-intelijennya. Selanjutnya, Letkol Ali Moertopo menjadi
tokoh penting dalam setiap gerakan kontra-intelijen pemerintahan Soeharto.
Yang menarik, Zulkifli Lubis, yang waktu itu sudah berpangkat Kolonel, malah meninggalkan Jakarta. Lubis yang menjadi inspirator terbentuknya dinas intelijen di Indonesia, bergabung bersama pemberontak di Sumatera. Di situlah CIA mulai terlibat.
Selanjutnya, pada 22 Mei, KIN berubah nama menjadi Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN), melalui Surat Keputusan Presiden Soeharto. [Bersambung/mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !