INILAH.COM, Jakarta - Selama 15 tahun, badan intelijen dipegang oleh Yoga Sugama. Berbagai operasi dilakukan. Terutama, untuk mengamankan kekuasaan Presiden Soeharto.
Tahun 1989, Yoga Sugama diganti Sudibyo, yang juga sudah lama menjadi wakilnya. Konflik di tubuh intelijen mulai meruncing. Terutama antara pejabat dari militer dan sipil.
Ditambah lagi, saat itu peran BAIS yang dipimpin oleh LB Moerdani mulai menguat.
BAKIN menjadi lemah karena tegangnya hubungan pejabat sipil dan militer di lembaga itu.
Presiden Soeharto sendiri sudah sangat kuat kekuasaannya. Unit-unit khusus yang dibentuk di beberapa lembaga dan juga BAIS di ABRI sudah banyak mengambilalih peran BAKIN.
Tahun 1996, Letjen Sudibyo diganti oleh Letjen Moetojib. Bagi kalangan intelijen, nama Moetojib kurang mempunyai kekuatan. Akhirnya, BAKIN menjadi lembaga yang lemah.
Padahal, pada saat itu gejolak politik di tanah air mulai meningkat eskalasinya.
Gerakan politik di Papua, di Aceh dan di Jakarta sendiri, tidak bisa diatasi oleh BAKIN. Lembaga intelijen itu menjadi tidak punya taring lagi.
Sampai akhirnya Presiden Soeharto tumbang, BAKIN menjadi lembaga intelijen yang tak mempunyai kekuatan.
Presiden Habibie yang menggantikan Soeharto, mengangkat orang militer yang dekat dengan dia: Zailani Azhar Maulani.
Di kalangan militer, Maulani adalah intelektual yang cemerlang. Tetapi, di dunia intelijen, Maulani kurang diperhitungkan.
Ini yang membuat BAKIN semakin terpuruk. Ditambah dengan krisis ekonomi yang membuat dana operasi intelijen semakin minim. Sangat berbeda dengan zaman Ali Moertopo atau Benny Moerdani.
Habibie terguling dan Gus Dur tampil menjadi Presiden. Tahun 2000, Gus Dur sepakat dengan konsep re-organisasi seluruh organisasi intelijen di Indonesia.
Ditunjuklah Wakil Kepala BAIS, Letjen Arie J Kumaat untuk memimpin lembaga baru intelijen: Lembaga Intelijen Negara.
Anggaran LIN ditambah. Struktur organisasinya berubah. Ada lima deputi yang menangani intelijen asing, intelijen dalam negeri dan analisa.
Mulai Januari 2001, LIN pun diubah namanya menjadi Badan Intelijen Nasional. Arie J Kumaat harus kerja keras untuk menata organisasi, ditambah dengan akrobat politik Gus Dur yang membuatnya terjatuh di Sidang Istimewa.
Wakil Presiden Megawati menggantikan Gus Dur sebagai Presiden. Saat itulah diangkat Letjen AM Hendropriyono sebagai Kepala BIN.
Kerja BIN mulai terlihat. Ancaman dari kelompok kanan garis keras mulai menguat. Hendropriyono mulai membangun kembali jaringan sel intelijen untuk melakukan kerja-kerja intelijen.
Peristiwa-peristiwa teror pun terjadi. Hendropriyono, lulusan Akmil '67, yang menghabiskan banyak waktu tugasnya di Pasukan Khusus dan intelijen menjadikan BIN sebagai lembaga yang efektif.
Dari situ pula, BIN mulai membina hubungan dengan organisasi intelijen besar dunia, CIA.
Itu karena mereka mempunyai agenda yang sama, yaitu pemberantasan terorisme kelompok Osama bin Ladin dengan jaringan Al Qaeda-nya.
Sampai pemerintahan berganti ke Presiden SBY, BIN tetap dipegang oleh orang militer, Syamsir Siregar. Agenda BIN lebih meningkat karena gerakan teroris semakin menyebar.
Begitulah, saat Presiden SBY memerintah untuk kedua kalinya, BIN pun berubah lagi. Kali ini, Kepala BIN tidak lagi dari militer. Melainkan, Jenderal (pol) Sutanto, mantan Kapolri.
Ini, tentu saja mengejutkan bagi dinas yang puluhan tahun didera konflik kepentingan dan internal yang berkepanjangan.
Kehadiran Sutanto yang polisi, mau tidak mau membuka ruang konflik baru di kalangan pejabat BIN: militer-sipil dan satu lagi, polisi.[IMS]