INILAH.COM, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pergerakan nilai tukar rupiah masih dalam bayang-bayang dolar AS kendati muncul wacana diversifikasi mata uang.
"Bahwa kita harus terus melihat faktor perekonomian AS, melihat pengaruhnya ke seluruh dunia," ujar Ani usai menanam pohon dalam rangka Dirgahayu Departemen Keuangan, Rabu (28/10).
Ani menjelaskan, kendati banyak pihak yang menyatakan akan menggunakan mata uang lain dalam transaksi perdagangan dunia, namun hal tersebut belum berpengaruh secara signifikan. "Banyak yang mengatakan akan melakukan diversifikasi dalam currency, tapi dominasi currency AS itu masih di atas 70 persen dari total penggunaan currency dunia," jelasnya.
Lebih lanjut Ani mengatakan, berbagai tindakan pemerintah AS terkait kebijakan fiskal seperti pengumuman bank sentral AS terkait suku bunga akan memberi dampak pada pergerakan nilai tukar rupiah. "Apakah mau menaikkan suku bunga dalam mengantisipiasi defisit dari APBN- nya yang meningkat. Itu semuanya pasti akan mempengaruhi persepsi dan proyeksi terhadap mata uang dolar," ujarnya.
Kendati demikian, Ani tetap optimis bahwa nilai tukar rupiah akan mengalami penguatan. Pasalnya bila The Fed positif menaikkan suku bunga acuan maka akan berdampak positif bagi rupiah karena nilai tukar dolar AS akan melemah terhadap mata uang dunia lainnya. "Termasuk kita," ujarnya. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !