INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (30/10) diprediksikan menguat terbatas menyusul koreksi tajam sebelumnya dalam waktu singkat. Buy on weakness untuk BUMI! Pardomuan Sihombing, kepala riset PT Paramitra Alfa Sekuritas mengatakan penguatan
BUMI seiring penurunan harga dari Rp3.000 menuju Rp2.200-an terjadi dalam waktu yang singkat. Investor akan memanfaatkan kondisi ini untuk kembali mengakumulasi saham sejuta umat ini.
Ia memperkirakan
BUMI akan mengarah ke level
resitance Rp2.600 dan Rp2.200 sebagai level
support-nya. Saya rekomendasikan
buy on weakness untuk BUMI, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (29/10) petang.
Kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp75 (3,12%) menjadi Rp2.475 dibandingkan sebelumnya pada level Rp2.400. Harga tertingginya Rp2.475 dan terendah Rp2.150. Sedangkan volume transaksi mencapai 815,5 juta unit saham senilai Rp 1,8 triliun dan frekuenasi 17.154 kali.
Namun, Pardomuan mewanti-wanti kenaikan BUMI hari ini belum bisa dipastikan sebagai pembalikan arah. Bursa saham masih mendapat tekanan dari bursa global dan pelemahan harga komoditas. Harga minyak dunia saat ini sudah melemah kembali ke level US$ 77 per barel

, ujarnya.
Apalagi, BUMI sendiri sejak awal Maret 2009 sudah naik signifikan 650% dari level 400-an ke level Rp 3.000. Karena itu, sangat wajar jika pelaku pasar asing masih melakukan aksi
profit taking. Ini harus dicermati investor karena 70% struktur pasar Indonesia masih didominasi asing, imbuhnya.
Hal serupa terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pergerakannya dikontribusikan saham BUMI. Memang indeks hari ini diperkirakan memiliki potensi
technical rebound menyusul koreksi tajam sebelumnya. Namun ini masih bersifat spekulatif. Kalaupun menguat akan terbatas, tukasnya.
Pasalnya, market regional belum kondusif dan harga komoditas belum kembali menguat. Walaupun rilis data pertumbuhan triwilan ketiga ekonomi AS kemarin ternyata naik menjadi 3,5% dari prediksi 2,8%, belum tentu mengerek naik bursa regional. Karena, beberapa indikator ekonomi lainnya masih belum menunjukkan konfirmasi pemulihan, timpalnya.
Di sisi lain inflasi juga masih akan tinggi karena kenaikan harga komoditas yang dikhawatirkan akan menstimulus kenaikan tingkat suku bunga. Karena itu, investor juga harus mewaspadai adanya kekhawatiran di AS tentang perkembangan ekonominya meskipun pertumbuhan AS tertinggi sejak kuartal kedua 2008.
Dari dalam negeri, rupiah masih cenderung terus melemah ke 9.600-an. Itulah yang menyebabkan pergerakan market kemarin sangat fluktuatif hingga melemah 117 poin dan terakhir minus 11 poin.
Pelemahan di sesi pertama memang karena terjadi tekanan jual di bursa global dan bursa regional yang rata-rata melemah 1,5% bahkan ada yang mencapai 2% seperti bursa Taiwan. IHSG juga mengikuti bursa regional, tuturnya.
Namun di sesi kedua kemarin, terjadi
technical rebound menyusul penurunan indeks beberapa hari terakhir. Meski terjadi pembalikan arah, asing masih mencatatkan
net sell sebesar Rp500 miliar kemarin. Asing justru membesar melakukan
net sell di sesi pertama keluar Rp300 miliar dan Rp200 miliar di sesi kedua, ungkapnya.
Dari sisi ini terlihat terjadi distribusi oleh asing yang disinyalir sebagai aksi
profit taking dengan
return yang sudah besar sejak awal tahun. Karena kemarin pun sektor energi mengalami volatilitas hingga 30%. Hari Jumat (30/10) ini juga, akan terjadi hal serupa, pungkasnya. [mdr]