INILAH.COM, Jakarta - PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) mengumumkan pendapatan dari penjualan per September naik 8,3% menjadi Rp4,1 triliun, dari Rp3,8 triliun pada periode yang sama di tahun 2008.
Hal itu dikatakan Presiden Direktur Holcim Indonesia Eamon Ginley, dalam siaran pers di Jakarta. "Holcim Indonesia berhasil memperkuat posisi neraca dan melakukan investasi untuk memperbesar kapasitas kami dalam mengantisipasi peningkatan permintaan di masa depan, katanya.
Dengan demikian, arus kas operasi bersih naik sebesar 79% dan laba bersih naik sebesar 4% hingga menjadi Rp567 miliar. Kuatnya kemampuan kas ini cukup untuk mengurangi hutang jangka panjang Perusahaan sebesar 40%, hingga hanya tinggal Rp1,89 triliun selama 12 bulan terakhir ini. Selain itu, kas tersebut juga digunakan untuk mendanai investasi peningkatan kapasitas produksi Perusahaan melalui akuisisi pabrik di Malaysia.
Meskipun biaya energi terus meningkat, selama 9 bulan terakhir marjin Perusahaan tetap terjaga, yang berarti mencerminkan adanya kontinyuitas produktifitas perusahaan serta manajemen biaya yang baik pada bagian penjualan dan distribusi. EBITDA meningkat sebesar 6% menjadi Rp 1,165triliun, sedangkan marjin EBITDA tetap stabil seperti periode yang lalu.
Pada semester I 2009, ada beban finansial yang harus ditanggung Perusahaan, termasuk bunga dari pinjaman Tranche B sebesar US$195 juta, sementara pada tahun lalu tidak ada bunga yang harus dibayarkan. Nilai rupiah terhadap US$ terus menguat beberapa bulan terakhir ini, sehingga nilai hutang perusahaan dalam US$ juga berkurang. Akan tetapi, sebagai langkah pencegahan, Perusahaan tetap mempersiapkan fasilitas pinjaman dalam Rupiah. Laba bersih setelah semua beban dan pajak mencapai Rp566 miliar, dengan nilai laba per saham sebesar Rp74, yang merupakan kenaikan sebesar 4% dari periode yang sama tahun lalu. [hid]