INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan IHSG pada perdagangan pekan terakhir bulan Oktober dipengaruhi koreksi Wall Street dan harga minyak sehingga menyeret berada di level 2.250.
Menurut analis saham Sinarmas Securities, Alfiansyah IHSG terkoreksi karena indeks global dan regional yang terkoreksi sehingga mempengaruhi indeks dalam negeri. "Penurunan IHSG masih terpengaruh kondisi global dan regional yang sedang terkoreksi," katanya.
Sejak awal pekan, bursa Asia dan Wall Street memburuknya sehingga menjadi sentimen negatif. Hal ini dipicu oleh merosotnya harga minyak dunia di pasar internasional. Akibatnya bursa terpuruk yang didominasi sektor komoditi sehingga menyeret saham-saham sektor pertambangan dan perkebunan.
Awalnya bursa AS melemah setelah pasar khawatir Senat AS akan mengurangi stimulus sebesar US$8.000 untuk pembelian rumah pertama kali. Selain munculnya spekulasi bahwa Bank of America Corp (BofA) akan melepas saham untuk membayar dana bailout pemerintah.
Namun, dolar AS perlahan mulai menguat sehingga harga minyak dunia terkoreksi hingga ke US$77 per barel. Dengan penguatan dolar AS maka investor asing melakukan sell sehingga merontokkan saham-saham unggulan. Bahkan net sell investor asing mencapai Rp500 miliar. Saham yang paling banyak ditransaksikan adalah saham Bumi Resources (BUMI) yang memicu kepanikan investor sehingga sebagian besar saham mengalami penurunan. IHSG pun sempat turun 5% dan berada di level 2.250.
Beruntung pada akhir pekan bursa Wall street menguat yang dipicu pertumbuhan sebesar 3,5% sehingga menjadi sentimen positif bagi pasar saham semua negara termasuk IHSG. Dengan demikian IHSG ditutup menguat meskipun masih berada di level 2.350. [hid]