inovasi portal berita
Rabu, 8 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,998.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Ketua MK: Birokrasi Kita Gila

Headline
Mahfud MD - inilah.com/Agus Priatna
Oleh:
Jumat, 30 Oktober 2009 | 23:09 WIB
INILAH.COM, Medan - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan proses reformasi yang telah berlangsung selama 11 tahun lebih di Indonesia masih belum membuahkan hasil. Hal ini, kata dia, terbukti dari korupsi yang masih terjadi di mana-mana.

Selama ini, kata dia, Orde Baru selalu dianggap sebagai biangnya korupsi, sehingga perlu direformasi agar penegakan hukum lebih dapat dijalankan. Namun, harapan itu masih belum terwujud meski proses reformasi telah berlangsung selama 11 tahun lebih.

"Di setiap daerah masih banyak keluhan bahwa korupsi masih berjalan seperti dulu," katanya, dalam temu wicara dengan tokoh masyarakat lintas profesi di Medan, Jumat (30/10). "Proyek yang seharusnya hanya bernilai Rp350 miliar tetapi bisa `membengkak` menjadi Rp1 triliun," imbuhnya.

Sedikitnya, kata Mahfud, ada tiga faktor yang menyebabkan proses reformasi masih belum berjalan dan praktik korupsi masih terjadi di seluruh daerah di Indonesia. Pertama, kata dia, tujuan reformasi hanya untuk menjatuhkan kepemimpinan Soeharto padahal budaya korupsi itu sudah mengakar di seluruh aspek kehidupan.

Salah satu aspek yang paling banyak terjadi korupsi adalah birokrasi, sehingga menyebabkan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi terhambat. "Birokrasi kita gila. Sampai sekarang pun masih korup," ujarnya.

Mahfud mengaku sering menerima keluhan dari pemilik modal yang ingin menanamkan investasinya di Indonesia tetapi terbentur sulitnya birokrasi."Ada yang meminta bagian, ada yang menawarkan diri menjadi calo dan lain sebagainya," kata mantan Menteri Pertahanan itu.

Faktor kedua, menurut Mahfud, tidak adanya seleksi terhadap politisi yang ingin mengambil peran dalam sistem perpolitikan nasional. Akibatnya, politisi lama yang memiliki mental korup masih memiliki peran perpolitikan nasional meski partai politiknya berubah.

"Namun, orang-orangnya itu-itu juga sehingga pembuat keputusan pun itu-itu juga," katanya.

Sedangkan faktor ketiga menurut Mahfud yang menyebabkan reformasi belum berhasil karena politisi yang baru tampil tidak memiliki visi ketika tampil dalam perpolitikan nasional.[*/nuz]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
1 Komentar
Mahfum @ Sabtu, 31 Oktober 2009 | 06:22 WIB
Faktor keempat, pelaksananya plintat-plintut seperti anda.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.