INILAH.COM, Jakarta BUMI melanjutkan koreksi sepekan sebelumnya, dengan anjlok 13,6%. Hal ini dipicu merosotnya harga minyak mentah dunia, dan kekhawatiran akan rumor repo Bakrie.
Senin (26/10), BUMI turun Rp25 ke Rp2.725. Merosotnya harga minyak menembus US$80, tepatnya di US$79.57 per barel, menekan saham berbasis komoditas. Sektor tambang pun turun 0,2%.
Harga minyak melemah, akibat penghentian pemberontakan Nigeria dan kekhawatiran akan pengaruh El Nino. Selain koreksi teknikal, setelah naik pesat empat pekan berturut-turut.
Sejak awal 2009, harga minyak telah naik 79% dan sejak awal Oktober, naik 22%. Meski bursa didominasi koreksi, tapi beberapa saham unggulan berhasil menguat, sehingga IHSG hanya turun tipis 0,01% ke 2.467,714.
Berlanjutnya pelemahan harga minyak ke US$ 78,68 per barel, kembali menekan BUMI pada Selasa (27/10), sehingga turun Rp175 (6,42%) ke Rp2.550. BUMI bahkan menjadi katalis pelemahan indeks sebesar 1,72% ke 2.425,201, dengan nilai transaksi Rp1,054 triliun, 28,6% dari total perdagangan.
Anjloknya BUMI dipicu rumor bahwa Bakrie akan melakukan repo saham lagi. Meskipun manajemen membantah, namun pasar sudah merespon negatif. Pasalnya, masih banyak sejarah repo yang harus di-top up akibat penurunan drastis harga sahamnya. Dan sebagai saham yang terlikuid, wajar jika BUMI menjadi prioritas aksi jual investor.
Sentimen negatif lain datang dari jatuhnya harga minyak ke US$ 78,68 per barel dan batubara ke US$ 50,83 per ton. Sektor tambang pun anjlok 3,11%.
Adanya kesalahan penulisan dalam laporan keuangan BUMI, juga menyebabkan kinerja emiten ini baru dapat dilaporkan 30 November mendatang. Hal ini pun berimbas negatif pada saham-saham lainnya sehingga ditutup melemah.
Manajemen BUMI menegaskan pinjaman dari CIC (China Investment Corporation) sebesar US$1,9 miliar tidak untuk mengakuisisi saham di PT Berau Coal dan Newmont. Perseroan hanya ikut konsorsium minoritas untuk membeli saham Newmont melalui unit usahanya, PT Bumi Resources Investment, dengan 5% kepemilikan tidak langsung pada PT Multi Capital.
Senior Vice President Investor Relations BUMI, Dileep Srivastava menjelaskan, BUMI hingga saat ini belum melakukan pinjaman senilai US$ 500 juta untuk akuisisi. Namun, perseroan terus berupaya mencari alternatif pembiayaan untuk kegiatan operasional, investasi, dan akuisisi. "Kami menerima banyak proposal pembiayaan, baik institusi keuangan domestik maupun internasional, termasuk bank komersial dan bank investasi," ujarnya.
Namun, sentimen negatif tampaknya terus berlanjut. BUMI kembali merosot Rp150 ke level Rp2.400 pada Rabu (28/10). Semua sektor merosot, dimpimpin sektor tambang yang anjlok 4,5%.
IHSG tertekan cukup dalam, turun 2,88% ke 2.355,314, seiring negatifnya bursa regional dan mixednya bursa AS.
Namun, harapan kembali muncul. BUMI pada Kamis (29/10) berhasil menguat Rp75 ke Rp2.475. Kenaikan emiten ini bahkan mampu meredam aksi panic selling di lantai bursa. Ahasil, IHSG hanya turun tipis 0,48% ke level 2.344,033
Penguatan BUMI memang anomali, di tengah deraan berbagai sentimen negatif, seperti memburuknya bursa Asia dan Wall Street, serta anjloknya harga minyak ke US$77 per barel.
Tersiar berita bahwa BUMI akhir 2009, berpotensi memperoleh pendapatan sebesar US$ 3,72 miliar, menyusul penjualan kuartal tiga 2009 setahun sebesar 62 juta ton. Sementara itu, harga jual rata-rata tertimbang (FOB) sekitar US$ 60 per ton.
Sorang sumberINILAH.COM mengatakan, pembalikan arah bursa disebabkan intervensi pemerintah, terutama untuk menepis anggapan bahwa Kabinet baru tidak disukai pasar. Ini berarti, kenaikan IHSG tidak memiliki fondasi yang kuat. Hanya saja, agar bagus supaya kabinet tidak dikira tidak disukai market, pemerintah mengangkat saham," katanya.
Terindikasi dari net sell investor asing sebesar Rp500 miliar, dimana sesi pertama keluar Rp300 miliar dan Rp200 miliar di sesi kedua. Hal ini menunjukkan terjadi distribusi oleh asing sebagai aksi profit taking dengan return besar sejak awal tahun. Kalau kita lihat, yang dihajar adalah saham yang besar-besar, seperti ANTM. Kemudian BUMI juga diintervensi karena merupakan saham sejuta umat, dia tarik dua poin setelah itu market yang jalan," jelasnya.
Di hari terakhir perdagangan pekan ini, BUMI kembali melemah, anomali dengan kenaikan bursa dan harga komoditas lainnya. BUMI turun Rp100 (4,04%) ke level Rp2.375, dengan nilai transaksi Rp1,177 triliun, atau 17,7% dari total perdagangan.
Dominasi BUMI menghambat penguatan IHSG sehingga hanya bisa ditutup menguat 1,01% ke level 2.367,701. Padahal, beberapa sentimen positif merebak di pasar, seperti pertumbuhan GDP AS kuartal tiga dan klaim pengangguran yang lebih baik dari estimasi. Positifnya data ekonomi global juga mengangkat harga minyak US$79,87 per barel.
Beredar kabar bahwa BHP Biliton Ltd tengah mengkaji penawaran yang diajukan BUMI senilai US$500 juta untuk akuisisi 100% tambang batubara berkalori tinggi Maruwai di Kalimantan Tengah.[mdr]