inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Trend BUMI Menguat Hingga Akhir Tahun

Headline
inilah.com /Agung Rajasa
Oleh: Ahmad Munjin
Selasa, 3 November 2009 | 08:59 WIB
INILAH.COM, Jakarta Pergerakan PT Bumi Resources (BUMI), hingga akhir tahun diprediksikan menguat. Trend penguatan indeks regional, komoditas, dan demand batubara menjadi pemicunya.
Gina Novrina Nasution, riset analis dari Reliance Securities memperkirakan tren penguatan saham BUMI hingga akhir tahun seiring trend penguatan bursa global dan harga minyak mentah dunia menjelang musim dingin awal 2010 di AS. Menurutnya, harga minyak akan mendorong penguatan harga batubara.
Karena itu, saham BUMI sangat layak dikoleksi karena kecenderungannya menguat hingga akhir tahun. Gina menargetkan secara teknikal BUMI akan berada di atas Rp3.500. BUMI akan bergerak pada kisaran supportRp1.800 dan Rp3.550 untuk level resitance-nya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, untuk berinvetasi di saham BUMI, investor sejatinya berpatokan pada Warren Edward Buffett yang menganjurkan untuk memilih saham berfundamental bagus untuk jangka panjang. Saham berbasis komoditas merupakan emiten jangka panjang, termasuk BUMI, ujarnya.
Apalagi, lanjut Gina, saham sejuta umat ini juga mendapat sentimen positif dari BHP Billiton yang tengah mengkaji penawaran BUMI senilai US$500 juta terkait akuisisi tambang batubara Maruwai di Kalimantan Tengah. Finalisasi penawaran itu, tepat pada Senin (2/11) kemarin. Positif karena terkait pertumbuhan diversifikasi usahanya itu, paparnya.
Namun, Gina menggarisbawahi bahwa investor juga harus mencermati dan memperhitungkannya kembali dana senilai US$500 juta itu, baik asal-usul dan tingkat bunganya. Saya rekomendasikan buy on weakneess untuk BUMI. imbuhnya.
Investor pun harus bersikap lebih rasional dan realistis dalam menyikapi panic selling seperti yang terjadi pekan lalu di bursa, termasuk BUMI. Ketika itu, banyak pelaku pasar yang memperkirakan akan terjadi resesi (crash) ekonomi kedua. Tapi, saya rasar ekonomi global dalam tahap recovery, timpalnya.
Hal ini didukung laporan Gross Domestic Product (GDP) AS kuartal ketiga yang mengalami kenaikan menjadi 3,5%, dari sebelumnya minus. Itu sangat luar biasa, menunjukkan ekonomi sedang pulih, ucapnya.
Dihubungi terpisah, pengamat pasar modal, Felix Sindhunata mengatakan penurunan BUMI saat ini harus dimanfaatkan untuk aksi beli dengan tujuan investasi jangka panjang. Menurutnya, jika melihat fundamental BUMI secara umum, saham ini sangat positif hingga akhir tahun.
Saya tidak melihat jeleknya prospek batubara yang merupakan produk utama BUMI, tuturnya. Ia memperkirakan harga batu bara akan melonjak seiring pembangungan proyek listrik 10.000 Mega Watt tahap I dan tahap II. Karena itu BUMI juga mati-matian meningkatkan jumlah produksi tahunannya, urainya.
Bahkan, hingga lima tahun mendatang pun harga batubara diprediksi Felix tidak akan merosot. Level harga saham BUMI di angka 4.000 hingga akhir tahun bisa saja menjadi kenyataan.
Apalagi, penurunan BUMI tidak akan terjadi berkepanjangan. Pada satu titik saham ini akan rebound dan mengarah ke level Rp 4.000. Sekarang tinggal menunggu market timing-nya saja. Saya rekomendasikan beli untuk BUMI, pungkasnya. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
1 Komentar
rudy @ Selasa, 3 November 2009 | 09:59 WIB
BUMI sangat bagus, Moody&SP sdh rating bagus, jika ada obligasi pasti dipatok dgn hrg saham >3300, bisa 4000. skrg sengaja diturunkan, diduga emitment lg buyback, ntar klo sdh cukup utk dijaminkan baru ditarik. cara ini illegal, harus dihukum berat.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.