Minggu, 27 Mei 2012 | 08:25 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Linda Gumelar
Semangat Aktivis untuk Menteri
Headline
Linda Gumelar
Oleh: Asteria
web - Selasa, 3 November 2009 | 02:37 WIB
INILAH.COM, Jakarta Penyakit kanker yang dideritanya, tak membuat harapan putri Minang ini redup. Ia bahkan dinilai pantas menjadi penyemangat kaumnya sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan.
"Saya dipertimbangkan Presiden, karena saya pernah memimpin Kowani pada periode 2004-2009. Ketika itu, beliau memuji peran saya sebagai ketua umum," ujar Linda Amalia Sari atau lebih dikenal dengan Linda Agum Gumelar itu kepada INILAH.COM. di Jakarta, akhir pekan lalu.
Linda saat ini memang masih menjabat sebagai Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani,) untuk periode 2004-2009. Federasi organisasi kemasyarakatan wanita Indonesia ini menaungi 78 organisasi wanita di Indonesia, dengan anggotanya mencapai 30 juta lebih. Pujian yang datang dari pemimpin negara, tentu merupakan hal yang membanggakan.
Lahir di Bandung, 15 November 1951 silam, Linda pun menyarankan agar perempuan Indonesia meningkatkan kualitas diri dan menunjukkan prestasinya dengan bergabung dalam organisasi apapun. Karena kemampuan perempuan sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas untuk bisa menghadapi tantangan global, papar lulusan Universitas Pancasila ini.
Putri keempat dari enam bersaudara pasangan Achmad Taher dan Rooslila Simanjuntak (tokoh wanita pejuang kemerdekaan Indonesia) ini memang aktif dalam pelbagai kegiatan. Ia memimpin berbagai organisasi sosial, seperti Yayasan Kesehatan Payudara (sebagai Ketua Dewan Pembina) dan Yayasan Onkologi Anak Indonesia (Dewan Pembina).
Kegigihannya mengkampanyekan bahaya kanker payudara kepada perempuan Indonesia, dilakukan berdasarkan pengalaman pribadi. Sekitar 13 tahun lalu, ia divonis memiliki kanker payudara dengam harapan hidup hanya 40%.
Namun, Linda pantang putus asa. Berbagai cara dan peluang dicoba, hingga ibu dari Khaseli dan Ami itu terpaksa merelakan kedua belah payudaranya diangkat, sebelum akhirnya pulih. Kini ia mampu menjalani hidup sebagaimana layaknya orang sehat, dengan menjaga pola makan dan rajin berolahraga.
Menjabat sebagai menneg PP dan PA, menggantikan Meutia Hatta, Linda berjanji akan memprioritaskan pemberdayaan perempuan di pedesaan. Terutama mengingat besarnya komposisi perempuan di daerah tersebut.
"Di masa depan, tantangan akan semakin berat bagi peningkatan peran perempuan dan warga Indonesia. Perempuan di pedesaan perlu lebih mendapat perhatian, dan itu yang menjadi kepedulian saya," ujar Linda yang juga mertua dari pebulu tangkis nasional Taufik Hidayat.
Wakil ketua ASEAN Woman Association itu mengatakan, program andalan yang menjadi prioritasnya dalam 100 hari ke depan adalah bertanggung jawab untuk membuat bangsa ini lebih maju dan besar. Jawaban saya adalah kita bekerja keras di bidang pemberdayaan perempuan, tegasnya.
Linda mengaku siap melanjutkan tradisi menteri di keluarga besarnya. Menurutnya, apa yang diterimanya saat ini merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, saya akan berusaha menjaga tradisi dan amanah ini dengan baik dan tidak main-main, ucap mantan anggota DPR dari Fraksi Karya Pembangunan (1992--1997).
Seperti diketahui, ayahnya, Letjen (pur) TNI Achmad Tahir adalah Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi (Menparpostel) 1983-1988 pada era Presiden Soeharto. Kemudian suami Linda, yaitu Agum Gumelar, sempat menjabat di dua posisi menteri selama tiga periode, yaitu Menteri Perhubungan (1999-2001) dan (2001-2004) serta Menko Polkam selama dua bulan pada 2001.
Menjadi menteri, bukan berarti menanggalkan kewajibannya sebagai istri. Pemanggilan ke Cikeas, sempat dikonsultasikan dengan sang suami. Ia pun baru melangkahkan kaki ketika mendapat lampu hijau. "Saya menjadi seperti ini, Pak Agum tahu. Dan kami semua bersyukur," paparnya.
Linda sendiri memiliki cita-cita unik dan idealis. Dia dan keluarga memilih tidak pindah ke rumah dinas menteri. Saya memilih tinggal di rumah pribadi karena tempat ini sudah lama saya tinggali, katanya.
Mengenai telepon dari Cikeas, Linda mengaku memiliki pengalaman menarik. Ketika mendapat telepon dari orang kepercayaan SBY, ia mengira panggilan itu ditujukan untuk suaminya, Agum Gumelar, yang saat itu berada di kamar mandi. Ketika menyampaikan hal itu kepada penelepon, Ia pun terkejut, terutama ketika tahu bahwa dirinyalah yang dicari presiden, bukan Agum. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.