INILAH.COM, Jakarta - Orang yang paling terkenal di Indonesia, Anggodo Widjojo hari ini, Rabu (3/11) muncul ke publik. Anggodo, sejak pukul 17.30, tampil di TV One. Seluruh isi rekaman yang diperdengarkan di KPK, di-KO oleh Anggodo.
Dengan suara yang lantang, Anggodo menyampaikan kepada penyiar TV One, bahwa seluruh rekaman yang diperdengarkan itu, jelas menunjukkan bahwa dia tidak ada upaya untuk melemahkan lembaga KPK. Apalagi sampai mengatur atau mengendalikan pejabat.
''Apanya yang melemahkan KPK? Saya ini diperiksa sebagai saksi di Mabes. Coba Anda dengar seluruh rekaman itu, apa ada pejabat yang saya telepon. Saya tidak telepon Ritonga. Yang pejabat hanya Wisnu (Wisnu Subroto, mantan Jamintel),'' kata Anggodo yang didampingi pengacaranya, Bunaran Situmeang.
Dari apa yang disampaikan Anggodo, menunjukkan betapa isi rekaman itu jadi tidak berarti. Anggodo menegaskan berkali-kali bahwa di rekaman itu tidak ada pejabat yang dia telepon.
Anggodo memang mengakui telah memberikan uang sebesar Rp 1 miliar kepada Ary Muladi. Uang itu adalah uang Anggoro, yang sekarang ini ada di luar negeri.
''Itu uangnya Anggoro. Kalau sampai uang itu tidak diberikan (kepada pimpinan KPK), jangan-jangan nanti Anggoro mengira uang itu dimakan Anggodo,'' kata Anggodo.
Anggodo mengatakan bahwa dia sama sekali tidak berhubungan dengan kasus yang menimpa saudaranya: Anggoro Widjojo.
''Saya ini tidak ada hubungannya dengan kasus yang menimpa Masaro atau Anggoro. Saya ini justru melapor ke polisi karena sebagai warga negara, saya tidak terima telah disadap,'' katanya.
Tentang adanya pengaturan kronologis di BAP waktu Anggodo diperiksa di Mabes Polri, yang ada di rekaman, Anggodo mengakui itu.
''Saya dan Ary sama-sama membuat BAP. Dia bikin BAP. Saya juga bikin BAP. Karena itu saya minta bantuan sama Pak Wisnu, karena BAP yang dibuat Ary bertentangan. Dan ingat, saya meminta itu karena Pak Wisnu teman saya,'' katanya.
Sepanjang siaran itu, terlihat betapa Anggodo merasa dirinya yang justru menjadi korban. Bahwa, munculnya nama-nama pejabat, itu sama sekali tidak berhubungan dengan dia.
''Coba Anda dengar seluruh rekaman itu. Seluruh Indonesia dengar. Apa ada saya mengatur atau mengendalikan pejabat? Memangnya siapa saya ini?,'' kata Anggodo.[ims]