INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah Australia fokus pada membatasi dampak tumpahan minyak dari sumur minyak Montara dan terus memberikan informasi yang terbaru kepada pihak berwenang Indonesia.
Prioritasnya adalah minimalisasi dampak tumpahan minyak pada lingkungan hidup. Bagian terbesar dari tumpahan minyak terdapat di perairan Australia di suatu area di dekat sumur minyak Montara, demikian rilis dari Kedubes Australia yang diterima redaksi INILAH.COM, Selasa (3/11).
Australia memonitor gerakan gumpalan-gumpalan minyak yang telah terurai dan lapisan minyak melalui penerbangan di atas laut setiap hari. Hasilnya, gumpalan-gumpalan minyak yang telah terurai dan lapisan minyak tetap berada di ZEE Indonesia.
Gumpalan minyak yang telah terurai teramati, per 21 September, sekitar 94 kilometer sebelah tenggara Pulau Roti. Pada 28 Oktober 2009, Menteri Lingkungan Hidup, Warisan dan Seni Australia Peter Garrett, berbicara dengan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Gusti Muhammed Hatta, mengenai tumpahan minyak Montara.
Lapisan minyak (sheen) tampak berwarna perak dan biasanya memiliki ketebalan sekitar 0,0001 mm. Ini tidak menyebabkan bahaya lingkungan di garis pantai namun dapat membahayakan kehidupan burung. Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA) menilai bahwa jenis dan jumlah minyak yang teramati di ZEE Indonesia tidak menimbulkan ancaman signifikan terhadap lingkungan laut.
Pada 21 Agustus lalu pukul 05.30 pagi waktu Australia Barat, penyemburan hidrokarbon yang tidak terkendali terjadi di Anjungan Sumur Montara unit pengeboran bergerak West Atlas 140 mil laut sebelah utara pantai Australia Barat. Akibatnya, minyak mentah ringan bocor ke permukaan samudera dan gas hidrokarbon ke atmosfir.
Perkiraan awal, 64 ton per hari (400 barel) hilang. Namun, laporan pengamatan dari kapal dan pesawat udara yang terlibat dalam usaha tanggap ini mengindikasikan pengurangan jumlah minyak yang bocor dari anjungan tersebut sejak 7 September. Perusahaan tersebut belum dapat mengkuantifikasi jumlah minyak yang bocor dari anjungan. [vin]